Pages - Menu

Suci Wulandari

Suci Wulandari
Suci Wulandari

Senin, 13 Februari 2012

Enam Prinsip Pacaran :)

Jika kita mencintai seseorang
jangan ragu untuk berkorban baginya,
walau nanti terasa berat,
namun lakukanlah demi cinta.

Jika kita mencintai seseorang
jangan pernah membuatnya terluka,
walau sulit ‘tuk mngukir setia
namun itulah awal menuju cinta sejati.

Jika kita mencintai seseorang
jangan pernah membuatnya merasa terdesak,
memilih diantara yang dicintainya,
membiarkannya bingung dalam dilema.

Jika kita mencintai seseorang
jangan pernah biarkan dia merasa sendiri,
menanggung lukanya seorang diri,
tanpa punya teman berbagi.

Jika kita mencintai seseorang
jangan pernah segan untuk menegurnya,
menariknya dari tepi jurang dalam,
menjauhkannya dari kata penyesalan.

Jika kita mencintai seseorang
jangan pernah hilangkan percaya,
tak perlu menyiksa diri dalam curiga,
membawa  diri dalam sakit hati.

Thank you for loving me
Treat like love wanna be
Promise it will never end
Through good and bad time
Thank you for loving me
Gave all your love just for me
Nothing that I could give
Just all the love in me

Kamis, 09 Februari 2012

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)




Sekolah                        :  SMP Negeri 1 Surakarta
Mata Pelajaran           :  Bahasa Indonesia
Kelas/Semester            :  VIII/1
Standar Kompetensi   :  4 Mengungkapkan informasi dalam bentuk laporan, surat dinas, dan petunjuk.
Kompetensi Dasar      :  4.3 Menulis petunjuk me­lakukan sesu­atu dengan urutan yang tepat dan meng­guna­kan bahasa yang efektif
Indikator                     :  (1)  Siswa dapat mandata urusan melakukan sesuatu;
                                         (2)  Siswa dapat menyimpulkan ciri-ciri bahasa petunjuk;
                                         (3)  Siswa dapat menulis petunjuk dengan bahasa yang efektif;
                                         (4)  Siswa dapat menyunting.
Alokasi Waktu            :  2 x 40 menit (1 x pertemuan)

A.    Tujuan Pembelajaran
1.      Siswa mampu mendata urutan melakukan sesuatu.
2.      Siswa mampu menyimpulkan ciri-ciri bahasa petunjuk.
3.      Siswa mampu menulis petunjuk dengan menggunakan bahasa yang efektif.
4.      Siswa mampu menyunting bahasa petunjuk.
v  Karakter siswa yang diharapkan         :
a.       Berwawasan luas.
b.      Tekun.
c.       Tanggung jawab.

B.     Materi Pembelajaran
1.      Teks petunjuk
2.      Ciri-ciri/syarat-syarat teks petunjuk
3.      Carapenulisan tekspetunjuk
4.      Praktik penulisan teks petunjuk.

C.    Metode Pembelajaran
1.      Tanya jawab
2.      Inkuiri
3.      Demonstrasi




D.    Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran
Kegiatan Awal
§  Apersepsi
Ø  Guru memberikan pertanyaan kepada peserta didik tentang petunjuk.
Ø  Peserta didik diminta untuk mencoba menyimpulkan tentang pengertian petunjuk.
Motivasi
Mampu membaca, memahami, dan menyimpulkan isi petunjuk.
Kegiatan Inti
§  Eksplorasi
Ø  Siswa mencari informasi yang berhubungan dengan petunjuk.
Ø  Guru mengadakan tanya jawab dengan siswa tentang petunjuk.
§  Elaborasi
Ø  Siswa membaca wacana petunjuk.
Ø  Siswa mendata urutan untuk melakukan sesuatu.
Ø  Siswa menjawab pertanyaan.
Ø  Siswa menyimpulkan ciri bahasa petunjuk.
§  Konfirmasi
Ø  Guru memberikan penjelasan terhadap hasil kerja siswa.
Ø  Guru memberikan penguatan dan refleksi terhadap materi yang telah disampaikan.
Kegiatan Penutup
1)      Guru bersama-sama dengan siswa menyimpulkan tentang materi pembelajaran.
2)      Guru memberikan penguatan terhadap siswa tentang materi.
3)      Guru memberikan penugasan kepada siswa sebagai upaya pemantapan.

E.     Sumber Belajar
a.       Majalah nova
b.      Tabloid saji
c.       Tabloid otomotif
d.      Koran
e.       Buku pelajaran bahasa dan sastra Indonesia



F.     Penilaian
a. Teknik                           : Tes tulis, tes unjuk kerja
b. Bentuk instrumen         : Tes uraian, uji petik kerja produk
c. Soal/Instrumen              : ..

1.      Tulislah materi pokok petunjuk yang kamu peroleh!
Pedoman penskoran
No
Kegiatan
Skor nilai

1
2
3
4
Siswa menuliskan materi pokok yang diperoleh
  1. sudah menuliskan dan jelas
  2. sudah menuliskan tetapi belum lengkap
  3. belum menuliskan tetapi sudah menemukan
  4. tidak menemukan

5
3
1
0

2.      Kembangkan materi pokok petunjuk menjadi sebuah petunjuk!
No.
Aspek
Penilaian
Skor
Skor maks
1

Kelengkapan isi
Ø  Isi petunjuk lengkap (sesuai ciri-ciri petunjuk)
Ø  Isi petunjuk mendekati langkap
Ø  Isipetunjuk tidak lengkap
2

1
0



2
2
Kesesuain isi
Ø  Isi sesuai dengan materi dan logika atau keilmuan
Ø  Isi sebagian kecil tidak sesuai dengan materi dan logika atau keilmuan
Ø  Isi sebagian besar tidak sesuai
Ø  Isi tidak sesusai materi logika
3

2


1
0






3
3
Sistematika
Ø  Urut-urutan sesuai
Ø  Tidak ada kesalahan
Ø  Urut-urutan tidak sesuai
2
3
0


5
4
Penggunaan ejaan dan tanda baca
Ø  Terdapat sedikit kesalahan penggunaan ejaan dan tanda baca
Ø  Sebagian besar penulisan ejaan dan baca salah
Ø  Penggunaan ejaan tanda baca selah semua
2

1

0




2


Jumlah skor maksimal

12

3.      Suntinglah tulisanmu berdasarkan hasil penilaian temanmu, guru, dan berdasarkan pendapatmu!
Pedoman Penilaian
No.
Aspek
Diskriptor
Skor
Skor
1

Ejaan
Pembentulan ejaan
Ø  Semua kesalah dibetulkan atau tidak ada kesalahan
Ø  Sebagian kesalah dibetulkan
Ø  Kesalahan tidak dibetulkan
2

1

0
2
Pilihan kata
Pembetulan pilihan kata
Ø  Semua kesalah dibetulkan atau tidak ada kesalahan
Ø  Sebagian kesalah dibetulkan
Ø  Kesalahan tidak dibetulkan
2

1

0
3
Kalimat
Pembetulan kalimat
Ø  Semua kesalah dibetulkan atau tidak ada kesalahan
Ø  Sebagian kesalah dibetulkan
Ø  Kesalahan tidak dibetulkan
2

1

0
                                                                                   
            Skor maksimal :
No. 1  = 5
No. 2  =12
No. 3  =  6
Jumlah skor maksimal = 21
Nilai akhir =     Perolehan skor       x skor ideal (100)   
                     Skor maksimum (21)

                                                                                                Surakarta , 19 Desember 2011

Mengetahui                                                                             Guru Mata Pelajaran
Kepala Sekolah



Ratna Purwaningtyastuti, S.Pd., M.Pd.                                  Suci Wulandari          
NIP.                                                                                        NIP.

Cerita Rakyat Roro Jonggrang



Pada zaman dahulu kala, ada seorang raja yang bernama Prabu Baka yang bertahta di Prambanan. Ia seorang raksasa yang menakutkan dan memiliki kesaktian yang tinggi. Wilayah kekuasaannya sangat luas. Kerajaan-kerajaan kecil di sekitar wilayahnya semua takluk di bawah kekuasaannya. Meskipun seorang raksasa, Prabu Baka mempunyai seorang putri cantik yang berwujud manusia bernama Roro Jonggrang. Prabu Baka sangat menyayangi putri tunggalnya itu. Sebagai wujud kasih sayangnya kepada putrinya, ia mewariskan seluruh kesaktian dan kepandaian yang dimilikinya. Maka jadilah Roro Jonggrang seorang putri yang cantik jelita dan sakti mandraguna.
Sementara itu di tempat lain, tersebutlah sebuah kerajaan yang tak kalah besarnyadengan Prambanan, yakni Kerajaan Pengging. Kerajaan itu memiliki seorang kesatria yang sakti bernama Bondowoso. Kesaktian Bondowoso terletak pada senjatanya yang bernama Bandung. Selain itu, Bondowoso juga mempunyai balatentara berupa makhluk-makhluk halus. Jika membutuhkan bantuan, Bondowoso mampu mendatangkan makhluk-makhluk halus tersebut dalam waktu sekejap. Suatu ketika, Raja Pengging bermaksud memperluas wilayah kekuasaannya. Ia pun memerintahkan Bondowoso dan pasukannya untuk menyerang Prambanan.
“Hai, Bondowoso! Siapkan pasukanmu untuk pergi menyerang Prambanan!” perintah Raja Pengging.
“Baik, Gusti! Perintah segera hamba laksanakan!” jawab Bondowoso sambil memberi hormat.
Keesokan harinya, berangkatlah Bondowoso bersama pasukannya ke Prambanan. Setibanya di Prambanan, mereka langsung menyerbu masuk ke dalam istana. Prabu Baka pun tidak tinggal diam. Ia segera memerintahkan pasukannya untuk menahan serangan pasukan Bondowoso yang datang secara tiba-tiba.
Pertempuran sengit pun tak terelakkan lagi. Namun karena pasukan Prabu Baka kurang persiapan dalam pertempuran itu, akhirnya pasukan Bondowoso berhasil menaklukkan mereka. Prabu Baka sendiri tewas terkena senjata sakti Bandowoso yang bernama Bandung. Sejak itu, Bondowoso pun dikenal dengan nama Bandung Bondowoso. Setelah Bandung Bondowoso dan pasukannya memenangkan pertempuran itu, Raja Pengging pun mengamanatkan Bandung Bondowoso untuk menempati istana Prambanan.

“Bandung Bondowoso! Sebagai ucapan terima kasihku atas keberhasilanmu mengalahkan Prabu Baka, aku memberimu amanat untuk mengurus Kerajaan Prambanan dan segala isinya, termasuk keluarga Prabu Baka,” kata Raja Pengging

“Terima kasih, Gusti! Hamba berjanji untuk menjaga amanat Gusti.” jawab Bandung Bondowoso.

Bondowoso pun segera menempati istana Prambanan. Pada saat hari pertama menempati Pramabanan, ia langsung terpesona melihat kecantikan Roro Jonggrang dan berniat untuk menjadikannya sebagai permaisuri. Pada suatu hari, Bandung Bondowoso menyatakan maksud hatinya kepada Raja Jonggrang.
“Wahai, putri Roro Jonggrang! Bersediakah engkau menjadi permaisuriku?” tanya Bandung Bondowoso.

Roro Jonggrang tidak langsung menjawab pertanyaan itu. Ia hanya terdiam dan kebingungan. Sebenarnya, ia amat membenci Bandung Bondowoso karena telah membunuh ayahnya. Namun, ia takut menolak lamarannya karena bagaimana pun juga ia tidak akan sanggup mengalahkan kesaktian Bondowoso. Setelah berpikir sejenak, Roro Jonggrang pun menemukan satu cara untuk menolak lamaran itu dengan cara yang halus.

“Baiklah, Bandung Bondowoso! Aku bersedia menerima lamaranmu, tapi kamu harus memenuhi satu syaratku.” jawab Roro Jonggrang.
“Apakah syaratmu itu, Roro Jonggrang?” tanya Bandung Bondowoso.
“Buatkan aku seribu candi dan dua buah sumur dalam waktu semalam,” jawab Roro Jonggrang.

Tanpa berpikir panjang, Bandung Bondowoso pun menyanggupinya, karena ia yakin mampu memenuhi syarat itu dengan bantuan balantentaranya. Pada malam harinya, Bandung Bondowoso mengundang balatentaranya yang berupa makhluk halus tersebut. Dalam waktu sekejap, balatentaranya pun datang dan segera membangun candi dan sumur sebagaimana permintaan Roro Jonggrang. Mereka bekerja dengan sangat cepat. Pada dua pertiga malam, mereka hampir menyelesaikan seribu candi. Hanya tinggal tiga buah candi dan sebuah sumur yang belum mereka selesaikan.

Roro Jonggrang yang ikut menyaksikan pembuatan candi itu mulai khawatir. Ia pun segera memberitahukan hal itu kepada salah seorang dayang kepercayaannya. Pembangunan seribu candi dan penggalian dua buah sumur tersebut hampir selesai.

“Apa yang harus kita lakukan?” tanya Roro Jonggrang kepada dayang itu.
“ Tenanglah, Gusti! Pasti ada jalan keluarnya,” hibur dayang itu.

Roro Jonggrang kembali berpikir keras dan ia pun menemukan jalan keluarnya. Ia akan membuat suasana menjadi seperti pagi, sehingga para makhluk halus tersebut menghentikan pekerjaannya sebelum menyelesaikan seribu candi.

“Dayang! Segera bangunkan teman-temanmu! Suruh mereka membakar jerami dan menumbuk padi di lesung, serta menaburkan bunga-bunga yang harum baunya!” perintah Roro Jonggrang.

“Baik, Gusti!” jawab dayang itu seraya bergegas masuk ke dalam istana membangunkan dayang-dayang lainnya.

Dayang-dayang pun bangun dan segera melaksanakan perintah Roro Jonggrang. Tak berapa lama, tampaklah cahaya kemerah-merahan dari arah timur akibat dari pemakaran jeramih. Suara lesung pun terdengar bertalu-talu. Bau harum bunga-bungaan mulai tercium. Beberapa saat kemudian, suara ayam jantan berkokok mulai terdengar. Para balatentara Bandung Bondowoso pun segera menghentikan pekerjaannya, karena mengira hari sudah pagi. Mereka pergi meninggalkan tempat pembuatan candi tersebut, padahal kurang sebuah candi lagi yang belum mereka selesaikan. Batu-batu berukuran besar masih berserakan di tempat itu. Melihat balatentaranya akan kembali ke alamnya, Bandung Bondowoso berteriak dengan suara keras.

“Teman-teman, kembalilah! Hari belum pagi. Genapkan seribu candi. Tinggal sebuah candi lagi!” teriak Bandung Bondowoso.

Para makhluk halus tersebut tidak menghiraukan teriakannya. Akhirnya, Bandung Bondowoso berniat meneruskan pembangunan candi itu untuk menggenapi seribu candi. Namun belum selesai candi itu ia buat, pagi sudah menjelang. Ia pun gagal memenuhi permintaan Roro Jonggrang. Mengetahui kegagalan Bondowoso tersebut, Roro Jonggrang segera menemuinya di tempat pembuatan candi itu.
“Bagaimana Bandung Bondowoso? Apakah candiku sudah selesai?” tanya Roro Jonggrang sambil tersenyum.

Betapa marahnya Bandung Bondowoso melihat sikap Roro Jonggrang itu. Apalagi setelah ia mengetahui bahwa Roro Jonggranglah yang telah menggagalkan usahanya. Ia pun melampiaskan kemarahannya dengan mengutuk Roro Jonggrang menjadi arca.

“Hai, Roro Jonggrang! Kamu telah menggagalkan usahaku untuk mewujudkan seribu candi yang kurang satu lagi. Jadilah kau arca dalam candi yang keseribu!” teriak Bandung Bondowoso.

Berkat kesaktian Bandung Bondowoso, seketika itu pula Roro Jonggrang berubah menjadi arca batu. Wujud arca itu sangat cantik, secantik Roro Jonggrang. Hingga kini, arca itu dapat disaksikan di dalam ruang candi besar yang bernama Candi Roro Jonggrang yang berada dalam kompleks Candi Prambanan. Sementara candi-candi yang ada di sekitarnya disebut dengan Candi Sewu.