Pages - Menu

Suci Wulandari

Suci Wulandari
Suci Wulandari

Rabu, 29 Desember 2010

RPP

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)


Mata Pelajaran                        : Bahasa Indonesia
Kelas/Semester                        : X/Gasal
Pertemuan ke                          :
Alokasi Waktu                        : 4 x 45 menit
Standar Kompetensi               : Berkomunikasi dengan Bahasa Indonesia setara tingkat Semenjana
Kompetensi Dasar                   : 1.5  Melafalkan kata dengan artikulasi yang tepat
Indikator                                 : 1.   Mengucapkan kata dengan suara yang jelas dan tekanan pada suku kata, serta artikulasi yang tepat/lazim
2.      Melafalkan bahasa Indonesia baku, termasuk lafal bahasa daerah yang dibedakan berdasarkan konsep lafal baku bahasa Indonesia

I.       Tujuan Pembelajaran
1.      Siswa mampu mengucapkan kata dengan suara yang jelas dan artikulasi yang tepat.
2.      Siswa dapat melafalkan bahasa Indonesia baku dengan artikulasi yang tepat.

II.    Materi Ajar
1.      Artikulasi bunyi
2.      Perbedaan makna sebagai kesalahan artikulasi bunyi
3.      Konsep lafal baku bahasa Indonesia

III. Metode Pembelajaran
-          Tanya jawab
-          Diskusi
-          Ceramah

IV. Langkah-langkah
A.    Kegiatan Awal            :  1.   Salam dan sapa
2.      Menyampaikan tujuan pembelajaran
3.      Pretes
  1. Kegiatan Inti               :  1.   Mendefinisikan artikulasi bunyi
2.      Memberian contoh fonem-fonem bahasa indonesia yang tepat
3.      Melafalkan kata yang telah teridentifikasi itu dengan suara yang jelas dan tekanan pada suku kata, serta artikulasi yang tepat/lazim
4.      Memperbaiki lafal bahasa Indonesia yang terpengaruh lafal bahasa daerah berdasarkan konsep baku bahasa Indonesia
C.  Kegiatan Akhir            : menyimpulkan materi pembelajaran, postest, pengayaan, remidiasi

V.    Alat/Bahan/Sumber Belajar :
-          KBBI
-          Maskurun, dkk.2007. BahasaIndonesia IIA untuk SMK Tataran Media Berdasarkan Kurikulum Baru ( Model KTSP 2006), Yogyakarta TIM LPID.



VI. Penilaian
Teknik                   : tes lisan
Bentuk Instrumen : uraian
Soal terlampir




Mengetahui,
Guru Pamong,


Dra. Sukatmini
Kartasura,            Oktober 2009

Praktikan

Vika.Septiana


§  Butir Soal:
I.       Cobalah Anda ucapkan dengan jelas, dan berikan arti katanya! Saat teman Anda melafalkan dan mengartikan kata yang bergaris bawah, Anda cermati ketepatannya!

1.      Pindahkan kemeja batik ini ke meja dekat almari itu.
2.      Kailku kena ikan besar ketika aku sedang menceritakan kenaikan kelasku.
3.      Aku yakin, Hari mau saja diajak melihat harimau di kebun binatang.
4.      Jika ingin tahu bagaimana cara membuat tahu, bacalah buku ini dengan cermat.


II.    Lafalkan kalimat-kalimat di bawah ini sehingga jelas artikulasi Anda, terutama pada pelafalan huruf dan kata yang bergaris bawah!
1.      Sejak terjadi krisis perfilman nasional, banyak artis film yang beralih profesi.
2.      Pada musim layang-layang banyak telepon yang mengalami gangguan hubungan.
3.      Lahan terbuka itu akan dijadikan kompleks perumahan perwira Angkatan Darat.
4.      Berapa tarif angkutan kota sekarang setelah kenaikan harga BBM?
5.      Bulan Februari tahun ini tentulah berumur 29 hari.
6.      Pada peringatan Hari Pahlawan 10 November nanti, ayahku


§  Pedoman Penilaian
-          Untuk poin I, tiap jawaban benar skor 3
-          Untuk poin II, tiap jawaban benar skor 2
-          Jumlah skor maksimal
I           10 x 3  = 30
II         10 x 2  = 20
Jumlah    50
-          Nilai maksimal = 10
 

-          Nilai siswa =                              x 10


§  Rubrik Penilaian
Poin
Uraian
Skor
I
Pengucapan jelas, artikulasi tepat, arti kata benar
Pengucapan kurang jelas, artikulasi kurang tepat, arti kata benar
Pengucapan kurang jelas, artikulasi kurang tepat, arti kata salah
Pengucapan tidak jelas, artikulasi tidak tepat, arti kata salah
3
2
1
0
II
Pelafalan kata atau kalimat dengan artikulasi tepat
Pelafalan kata atau kalimat dengan artikulasi tidak tepat
2
0

MENYIMAK FILM THE ORPHAN

MENYIMAK FILM THE ORPHAN
A.    Sinopsis :

Kate (Vera Farmiga) dan John (Peter Saarsgaard) adalah pasangan suami-istri yang sedang melewati masa sulit dalam pernikahan mereka. Mereka masih berduka karena keguguran yang dialami Kate. Kate harus menerima kenyataan kehilangan bayi yang dikandungnya, Trauma tersebut membuat jiwa Kate sedikit terguncang. Ia menjadi depresi dan mulai berteman dengan minuman beralkohol. Sikap Kate membuat hubungannya dengan John merenggang.
Karena tidak ingin terlarut dalam kesedihan, pasangan ini kemudian mengambil sebuah keputusan untuk mengadopsi seorang anak perempuan bernama Esther dari sebuah panti asuhan setempat. Esther adalah anak yang manis dan pintar. Namun, ia memiliki masa lalu yang cukup mengenaskan. Keluarga adopsi terdahulunya meninggal dalam peristiwa kebakaran. Hanya Esther yang selamat dari kecelakaan tersebut.
Pertama kali Kate dan John bertemu Esther, mereka langsung jatuh cinta padanya. Mereka tertarik pada Esther karena kepandaiannya menyanyi dan melukis. Di sisi lain, mereka merasa iba mendengar masa lalu Esther. Maka, mereka pun memutuskan untuk mengadopsi Esther.
Esther pun menjadi anak tengah di keluarga Coleman, selain Daniel (Jimmy Bennet) dan Max (Aryana Engineer). Kate dan John berharap Esther dapat menjadi adik dan kakak bagi kedua anak mereka. Kehadiran Esther diharapkan dapat membawa suasana baru di keluarga tersebut. Namun, harapan tersebut sepertinya tidak akan pernah terwujud. Perlahan tapi pasti, Esther berubah menjadi anak yang misterius dan labil. Penampilan luarnya yang manis dapat mengecoh semua orang. Justru, ia menjadi pusat kehancuran keluarga Coleman. Max kecil yang bisu dan tuli selalu diperdaya oleh Esther.
Max sangat kasihan sekali, begitu juga dengan Danniel. Mereka selalu di ancam agar tidak memberitahu tentang apa yang mereka lihat. Melihat ketidakberesan pada diri Esther, Kate berusaha memberitahu John. Namun, John tidak memercayai Kate. Ketidakstabilan jiwa dan masa lalu Kate membuat John sedikit apatis terhadap istrinya tersebut. Apalagi saat peristiwa kecelakaan Max akibat keteledoran Kate. John menganggap sikap Kate hanyalah reaksi dari kegelisahan yang berlebihan.
Maka, Kate pun berusaha untuk menyelamatkan keluarganya dari teror yang dilakukan Esther. Ia berusaha mencari tahu identitas dan masa lalu Esther yang sebenarnya. Masa lalu yang akan membuat Kate sangat terkejut. Esther, gadis kecil manis yang berubah menjadi iblis kecil, memiliki rahasia besar yang tidak akan pernah bisa dibayangkan oleh keluarga Coleman.
Daniel yang sudah tidak tahan dengan sikap Esther mencoba mengumpulkan bukti-bukti bahwa Esther adalah pelaku pembunuhan terhadap Kepala biarawati panti asuhan dimana dia berasal. Namun Daniel tidak dapat menghindar saat Esther membakar rumah pohonnya sehingga dia terjatuh dari rumah pohon. Kate berusaha menyelamatkan Daniel dengan membawanya ke rumah sakit, namun Esther tidak merasa puassebelum Daniel mati di tangannya. Kemudian Esther pun mencoba membunuh Daniel kembali di rumah sakit.
Kate berusaha memberitahu John tentang kejadian yang sebenarnya, namun John tetap tidak percaya dan justru semakin meyakini bahwa Kate lah yang bersalah. Mengetahui bahwa Daniel sudah meninggal, Kate sangat terpukul dan spontan menampar Esther dahadapan John. John semakin yakin bahwa Kate mengalami gangguan jiwa, sehingga Kate harus dirawat.
Esther yang merasa sudah tidak mempunyai penghalang ingin menampilkan jati dirinya yang sebenarnya dihadapan John. Esther, gadis manis berusia 9 tahun ternyata adalah Wanita berusia 33 tahun yang mengalami kelebihan hormon sehingga membuat tubuhnya kerdil. Sehingga Esther dapat mengelabuhi orang tua adopsinya, dia menggoda John layaknya wanita dewasa. John yang menolak dan menyadari ketidakberesan dalam diri Esther berusaha menyadarkannya, namun hal tersebut justru menjadi bumerang bagi John yang akhirnya dibunuh oleh Esther.
Kate yang telah mengetahui asal-usul Esther berusaha menyelamatkan keluarganya, namun Kate menemukan John yang sudah meninggal. Dan dia berusaha mencari dan menemukan Max, serta melawan Esther sekuat tenaga. Perlawanan semakin menegangkan ketika Max menembakkan senjata sehingga Kate dan Esther tercebur ke dalam danau dan akhirnya Kate dapat melawan Esther lalu Esther meninggal

B.     Penokohan :
1.      Esther (Isabelle Fuhrman) : Wanita 33 tahun yang berkedok sebagai gadis 9 tahun dengan sosok misterius, namun tetap anggun dan mempunyai dendam tersendiri kepada orang-orang yang menyakitinya.

Isabelle Fuhrman memerankannya dengan baik dan sempurna, karena telenta yang dimilikinya sebagai artis kecil.

2.      John (Peter Saarsgaard) : Kepala keluarga yang sangat mencintai dan memperhatikan anak dan istrinya walaupun sempat terjadi perselingkuhan. Sifat bijaksananya sangat sempurna, namun dia sulit untuk mempercayai istrinya.

Peter Saarsgaard memerankan perannya dengan baik dan sangat menjiwai.


3.      Kate (Vera Farmiga) : Seorang ibu yang trauma dengan keguguran yang dialaminya, namun dia adalah sosok ibu yang sangat perhatian terhadap anak-anaknya termasuk anak angkatnya.  Serta berusaha menyelamatkan keluarganya dari bahaya yang mengancam.

Vera Farmiga memerankan perannya secera professional dan sempurna.

4.      Daniel (Jimmy Bennet) : Anak laki-laki yang energik, suka bermain basket, mudah bersosialisasi dan penurut.

Jimmy Bennet cocok untuk memerankan peran sebagai anak laki-laki yang penurut.


5.      Max (Aryana Engineer) : Gadis kecil yang berkebutuhan khusus, namun dapat bersosialisasi dengan lingkungannya dan penurut .

Aryana Engineer, untuk anak seusianya berperan sebagai anak bisu dan tuli tidaklah mudah, namun dia dapat menesuaikan diri dengan baik dan memerankan dengan baik pula.

C.    Aransemen :
Musik horror yang digunakan dalam film The Orphan sangat tepat dan sesuai saat adegan klimaks, sedih maupun gembira.

Selasa, 28 Desember 2010

TEKNOLOGI PEMBELAJARAN

A.    Konsep Teknologi Pembelajaran
Menurut Prof. Sutomo dan Drs. Sugito, M.Pd Teknologi Pendidikan adalah proses yang kompleks yang terpadu untuk menganalisis dan memecahkan masalah belajar manusia/ pendidikan. Menurut ”Mackenzie, dkk” (1976) Teknologi Pendidikan yaitu suatu usaha untuk mengembangkan alat untuk mencapai atau menemukan solusi permasalahan. Jadi Teknologi Pendidikan adalah segala usaha untuk memecahkan masalah pendidikan. Lebih detail dapat diuraikan bahwa:
- Teknologi Pendidikan lebih dari perangkat keras. Ia terdiri dari desain dan
lingkungan yang melibatkan pelajar.
- Teknologi dapat juga terdiri segala teknik atau metode yang dapat dipercaya
untuk melibatkan pelajaran; strategi belajar kognitif dan keterampilan berfikir
kritis.

B.     Pentingnya Teknologi Pembelajaran
Masalah-masalah pokok yang dihadapi pendidikan di Indonesia yang terpenting
adalah mengenai : peningkatan mutu, pemerataan kesempatan pendidikan, dan relevansi
pendidikan dengan pembangunan nasional. Kenyataan-kenyataan yang dikemukakan di atas menunjukkan bahwa pemecahan masalah-masalah pendidikan kita membutuhkan alternatif-alternatif lain disamping cara penyelesaian yang konvensional yang dikenal selama ini. Berbagai potensi yang dimiliki oleh teknologi dalam pendidikan lantas memungkinkannya diajukan sebagai suatu alternatif untuk memecahkan masalah-masalah tadi. Secara umum aplikasi teknologi dalam pendidikan akan mampu :
1. menyebarkan informasi secara meluas, seragam dan cepat.
2. membantu, melengkapi dan (dalam hal tertentu) menggantikan tugas guru.
3. dipakai untuk melakukan kegiatan instruksional baik secara langsung maupun
sebagai produk sampingan.
4. menunjang kegiatan belajar masyarakat serta mengundang partisipasi masyarakat.
5. menambah keanekaragaman sumber maupun kesempatan belajar.
6. menambah daya tarik untuk belajar.
7. membantu mengubah sikap pemakai.
8. mempengaruhi pandangan pemakai terhadap bahan dan proses.
9. mempunyai keuntungan rasio efektivitas biaya, bila dibandingkan dengan sistem
tradisional. (Miarso, 1981)

Pola-pola Pembelajaran
a.       Guru Hanya Satu-satunya Sumber
Dalam pola pembelajaran ini guru adalah satu-satunya sumber belajar bagi siswa, sehingga guru harus memaksimalkan pengajarannya agar dapat memenuhi kebutuhan belajar peserta didiknya.
b.      Guru dan Alat Peraga
Dalam pola pembelajaran ini guru sebagai tentor yang memberikan materi dengan bantuan alat peraga, contohnya patung tengkorak, peta dan sebagainya agar dapat menjelaskan dengan maksimum kepada siswa.
c.       Guru dan Media
Dalam pola pembelajaran ini guru sebagai fasilitator yang memberikan materi melalui berbagai media pembelajaran contohnya OHP, LCD, laptop dan sebagainya agar dapat menjelaskan dengan maksimum kepada siswa.
d.      Media
Dalam pola pembelajaran ini siswa tidak memerlukan guru sebagai tentor, siswa hanya perlu memahami materi dari berbagai media pembelajaran contohnya OHP, LCD, laptop dan sebagainya.
e.       Guru dan Suatu sumber Belajar
Dalam pola pembelajaran ini guru sebagai fasilitator yang memberikan materi melalui berbagai sumber belajar contohnya radio, televisi, LKS, internet, buku elektronik (ebook) dan sebagainya agar dapat menjelaskan dengan maksimum kepada siswa.

PERUBAHAN MAKNA

Dalam pertumbuhan bahasa, makna suatu kata dapat pula mengalami perubahan. Perubahan makna itu dapat dilihat dari bermacam-macam sudut. Menurut Abdul Chaer (1995 : 310-313), Ada dua faktor yang menyebabkan perubahan makna, yaitu faktor linguistis dan nonlinguistis. Faktor lingusitis berarti faktor dari dalam bahasa itu sendiri, sedangkan faktor nonlinguistis berarti faktor yang berasal dari luar bahasa tersebut.
Tergolong ke dalam faktor linguistis adalah :
·         proses pengimbuhan (afiksasi),
·         proses pengulangan (reduplikasi), dan
·         proses penggabungan (komposisi).
Di sisi lain, termasuk ke dalam faktor nonlinguistis adalah :
1.                        Faktor linguistik;
2.                        Faktor kesejarahan;
3.                        Faktor sosial masyarakat;
4.                        Faktor psikologis;
5.                        Faktor kebutuhan kata baru;
6.                        Faktor perkembangan ilmu dan teknologi;
7.                        Faktor perbedaan bidang pemakaian atau lingkungan;
8.                        Faktor pengaruh bahasa asing;
9.                        Faktor asosiasi;
10.                    Faktor pertukaran tanggapan indera;
11.                    Faktor perbedaan tanggapan pemakai bahasa;
12.                    Faktor penyingkatan
Menurut bermacam-macam peristiwa perubahan makna antara lain :
1.      Perluasan (generalisasi)
Perluasan makna atau generalisasi adalah proses perubahan makna kata dari yang lebih khusus ke yang lebih umum. Hal ini bararti bahwa cakupan makna sekarang lebih luas daripada makna yang lama atau dapat juga dikatakan perubahan makna dari yang lebih sempit ke yang lebih luas.
Contoh kata yang mengalami perluasan :
Berlayar, dulu digunakan dengan pengertian bergerak di laut dengan memakai layar, tetapi sekarang semua tindakan mengarungi lautan atau perairan dengan alat apa saja disebut berlayar . Dahulu kata bapak dan hanya dipakai dalam hubungan biologis, sekarang semua orang yang lebih tua atau lebih tinggi kedudukannya disebut bapak sedangkan segala orang yang dianggap sama derajatnya disebut saudara.

2.      Penyempitan (spesialisasi)
Penyempitan makna atau spesialisasi adalah proses perubahan makna kata dari yang lebih umum ke yang lebih khusus. Hal ini bararti bahwa cakupan makna lalu lebih luas daripada makna yang sekarang.

Contoh kata yang mengalami penyempitan :
Kata sarjana dulu digunakan untuk menyebut semua orang cendekiawan, sekarang dipakai untuk gelar universiter . Pendeta dulu berarti orang yang berilmu, sekarang dipakai untuk menyebut guru agama Kristen.

3.      Peninggian (ameliorasi)
Peninggian makna atau ameliorasi adalah proses perubahan makna kata yang mengakibatkan makna yang baru dirasakan lebih tinggi, hormat, atau baik nilainya daripada makna yang lama atau semula.
Contoh kata yang mengalami peninggian :
wanita dirasakan lebih tinggi nilainya dari kata perempuan; isteri atau nyonya dirasakan lebih tinggi atau lebih baik daripaada kata bini.

4.      Penurunan (peyorasi)
Penurunan makna atau peyorasi adalah proses perubahan makna kata yang mengakibatkan makna sekarang dirasakan lebih rendah, kurang baik, kurang menyenangkan, atau kurang halus nilainya daripada makna semula (lama).
Contoh kata yang mengalami penurunan : pelacur lebih kasar daripada tunasusila.

5.      Pertukaran (sinestesia)
Sinestesia adalah perubahan makna akibat pertukaran tanggapan dua indera ( dari indera penglihatan ke indera pendengaran; dari indera perasaan ke indera pendengaran dan sebagainya).
Contoh kata yang mengalami pertukaran : Kata-katanya pedas, suaranya sedap didengar, pidatonya hambar, dan lain-lain.

6.      Persamaan (asosiasi)
Asosiasi adalah proses perubahan makna sebagai akibat persamaan sifat.
Contoh kata yang mengalami persamaan : Amplop artinya sogokan, dan lain-lain.

7.      Metafora
Metafora adalah pemakaian kata tertentu untuk objek atau konsep lain berdasarkan kias atau persamaan.