Pages - Menu

Suci Wulandari

Suci Wulandari
Suci Wulandari

Selasa, 24 April 2012

ANALISIS JURNAL MODEL PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA BERWAWASAN MULTIKULTURAL UNTUK MENINGKATKAN KECERDASAN EMOSI SISWA SMP KARYA IDA ZULAEHA DAN FATUR ROKHMAN


A.    Resume Jurnal Model Pembelajaran Bahasa Indonesia Berwawasan Multikultural untuk Meningkatkan Kecerdasan Emosi Siswa SMP
Masyarakat Indonesia adalah masyarakat multicultural yang di dalamnya berkembang banyak kebudayaan (Watson, 200:1; Tilaar, 2004:29). Menyadari pentingnya multikulturalisme, Indonesia membutuhkan manusia cerdas dan bermoral yang hanya dapat diciptakan melalui proses pendidikan multikultural. Interaksi dan komunikasi antarbudaya dapat terjalin dengan menggunakan bahasa, karena bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi dapat menyatukan keragaman dalam diri masyarakat. Upaya tersebut sesuai dengan tujuan pembelajaran bahasa Indonesia yakni meningkatkan kemampuan siswa untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia baik secara lisan maupun tulis serta menimbulkan penghargaan terhadap hasil cipta manusia Indonesia.
Penelitian ini bertujuan mengujicobakan draf model pembelajaran bahasa Indonesia berwawasan multikultural untuk meningkatkan kecerdasan emosi siswa SMP.  Adapun tahap penelitian ini meliputi 1) Uji coba I draf model pembelajaran di tiga sekolah, 2) Revisi draf, 3) Uji coba II draf model pembelajaran di tiga sekolah, 4) Revisi draf, 5) model pembelajaran bahasa Indonesia berwawasan multikultural untuk meningkatkan kecerdasan emosi siswa SMP. Pendidikan multicultural di sekolah merupakan respon terhadap perkembangan keragaman populasi sekolah dan menuntut persamaan hak bagi setiap kelompok seluruh siswa tanpa membedakan gender, etnik, ras, budaya, strata social, dan agama.
Menurut James Banks dalam Muhaemin, pendidikan multikultural mempunyai lima dimensi yang saling berkait, yaitu content intregation, construction process, an equity paedagogy, prejudice reduction, dan melatih kelompok untuk berpartisipasi dalam kegiatan pembelajaran. Desain penelitian ini adalah research and development dengan menggunakan metode Action Research dalam mengujicobakan model seperti dikemukakan, yakni suatu bentuk penelitian yang mengujicobakan ide-ide ke dalam praktik untuk memperbaiki atau mengubah sesuatu agar memperoleh dampak nyata dari situasi.
Desain model pembelajaran multikultural yang terintegrasi dalam pelajaran bahasa Indonesia terbagi dalam empat tahapan, yaitu tahap orientasi/apersepsi, tahap eksplorasi, tahap penemuan konsep, dan tahap aplikasi. Skor rata-rata empat keterampilan pada tahap uji coba I, menyimak adalah 67,16, keterampilan berbicara 73, keterampilan membaca dan menulis 67,81 dan 63. Dengan demikian dapat dilihat bahwa hasil pada uji coba I rata-rata tertinggi dicapai pada keterampilan berbicara, kemudian keterampilan membaca, berikutnya keterampilan menyimak, dan yang terakhir ketempilan menulis.
Berdasarkan hasil uji coba I desain model pembelajaran bahasa Indonesia berwawasan multikultural dilakukan perbaikan dan revisi pada tahap-tahap pembelajarannya, yaitu tahap orientasi, tahap hipotesis, tahap penjelasan istilah, tahap eksplorasi, tahap pembuktian, dan tahap generalisasi. Pada tahap uji coba II menunjukkan perubahan hasil belajar siswa. Siswa lebih antusias dalam pembelajaran dan lebih memahami adanya perbedaan budaya serta lebih dapat mengendalikan  emosi.
Hasil tes keempat keterampilan juga mengalami peningkatan. Skor rata-rata uji coba II pada keterampilan menyimak mencapai 82,16,  keterampilan berbicara 80,5, keterampilan membaca dan menulis 80,3 dan 66,84.
Model pembelajaran bahasa Indonesia berwawasan multikultural ini perlu diimplementasikan di sekolah untuk meningkatkan kecerdasam emosi siswa di SMP bersama-sama dengan guru lain, guru bahasa Indonesia juga bertanggungjawab memperkenalkan, memahamkan, dan mengajak siswa menghormati perbedaan etnis, agama, status sosial, dan ekonomi dalam maasyarakat multikultural seperti Indonesia.

B.     Analisis Jurnal  Model Pembelajaran Bahasa Indonesia Berwawasan Multikultural untuk Meningkatkan Kecerdasan Emosi Siswa SMP
Jurnal ini membahas hasil penelitian yang bertujuan untuk mengujicobakan draf model pembelajaran bahasa Indonesia berwawasan multikultural untuk meningkatkan kecerdasan emosi siswa SMP. Penelitian ini sangat baik untuk menambah berbagai model pembelajaran bahasa Indonesia, sehingga bagi guru bahasa Indonesia yang membaca penelitian ini diharapkan dapat menerapkan model pembelajaran bahasa Indonesia berwawasan multikultural di sekolahnya terutama SMP untuk meningkatkan kecerdasan emosi siswanya.  
 Dalam jurnal ini berisi banyak kajian teori, namun dalam pembahasan kegiatan pembelajarannya tidak menjelaskan simulasi pembelajaran di kelas, sehingga bagi guru bahasa Indonesia yang akan mengaplikasikan model pembelajaran bahasa Indonesia berwawasan multikultural tidak mengerti simulasi pembelajaran yang diterapkan Ida Zulaeha dan Fatur Rokhman di kelas.
Dalam pembahasan halaman 102 dituliskan “Tahap uji coba II menunjukkan perubahan hasil belajar siswa. Siswa lebih antusias dalam pembelajaran dan lebih memahami adanya perbedaan budaya serta lebih dapat mengendalikan emosi”, namun dalam pembahasan tersebut tidak dijelaskan bentuk dan bukti siswa yang lebih memahami adanya perbedaan budaya serta lebih dapat mengendalikan  emosi. Cooper dan Sawaf (1998) mengatakan bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan merasakan, memahami, dan secara selektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi dan pengaruh yang manusiawi. Kecerdasan emosi menuntut penilikan perasaan, untuk belajar mengakui, menghargai perasaan pada diri dan orang lain serta menanggapinya dengan tepat, menerapkan secara efektif energi emosi dalam kehidupan sehari-hari. Menurut saya contoh siswa yang lebih memahami adanya perbedaan budaya, seperti siswa dapat menghargai adanya perbedaan gender, etnik, ras, budaya, strata sosial, dan agama. Contoh siswa yang lebih dapat mengendalikan  emosi, yaitu siswa dapat saling menghormati teman yang berbeda gender, etnik, ras, budaya, strata sosial, dan agama dalam arti tidak menghina ataupun melecehkan.
Penjelasan metode penelitian yang digunakan sudah baik, pemilihan subyek penelitian yang digunakan adalah purposive. Purposive adalah cara pengambilan sampel dalam suatu penelitian berdasarkan pertimbangan atau  tujuan tertentu, tetapi dalam penelitian ini tidak disampaikan pertimbangan untuk memilih subyek penelitian.
Jurnal ini juga hanya menunjukkan hasil data kuantitatif yang diperoleh melalui tes kepada siswa, sedangkan tidak ada penjelasan data kualitatif dalam pelaksanaannya, berbeda dengan perencanaan awal untuk mengadakan instrument tes untuk data kuantitatif dan instrument non tes untuk data kualitaif, sehingga pembaca tidak mengetahui hasil data kualitatif dengan mengaplikasikan model pembelajaran bahasa Indonesia berwawasan multikultural. Grafik yang dituliskan pada halaman 109, gambar I Hasil ujicoba I dan II Pembelajaran Bahasa Indonesia tidak jelas maksudnya untuk keterangan jumlahnya, skala 0-100 tidak diberi penjelasan jumlah siswa atau nilai yang diraih, walaupun logika dari skala 0-100 pada hasil penelitian ini adalah nilai, tetapi perbandingan keterangan yang dijelaskan setelah penyajian grafik tersebut adalah jumlah siswa. Sehingga pembacaan grafik pada hasil penelitian ini dapat membuat pembaca bingung.
Penjelasan pendekatan yang digunakan sudah baik, yaitu menggunakan pendekatan eksponensial. Struktur penulisan dalam jurnal ini juga sistematik, penulis memaparkan abstract, kajian teori, hasil dan pembahasan, simpulan dan saran, serta daftar pustaka, tetapi tidak terdapat catatan kaki seperti pada penelitian lainnya yang menginformasikan identitas penulis dan tujuan ditulisnya penelitian ini.
Analisis bahasa dalam jurnal ini, bahasa yang digunakan dalam jurnal ini cukup komunikatif sehingga mudah dipahami oleh pembaca. Struktur penulisan dalam jurnal ini menggunakan dua kolom, sehingga mudah dibaca oleh pembaca. Dalam jurnal ini juga terdapat beberapa kesalahan penulisan, seperti pada kata “meenjawab" seharusnya “menjawab” (halaman 104), “lingkunagn” seharusnya “lingkungan” dan “mengintre-gasikan” seharusnya “mengintegrasikan” (halaman 105), “penga-jaran” seharusnya “pengajaran” (halaman 106), “me-narasikan” seharusnya “menarasikan”, “hipote-sis” seharusnya “hipotesis”, dan “verkaitan” seharusnya “berkaitan” (halaman 107), “mengung-kapkan” seharusnya “mengungkapkan” (halaman 108), “ren-tang” seharusnya “rantang” (halaman 109), “de-ngan” seharusnya “dengan” dan “pengem-bangan” seharusnya “pengembangan” (halaman 110).

ANALISIS JURNAL MAKNA SIMBOL DALAM KARYA SASTRA KARYA DRA. ALBERTINE S. MINDEROP,M.A.


A.    Resume Jurnal Makna Simbol Dalam Karya Sastra
Dra. Albertine S. Minderop, M.A. membahas hubungan bahasa simbol, dan kesusastraan. Maksudnya adalah memahami simbol-simbol yang terdapat dalam karya sastra. Bahasa adalah milik manusia yang digunakan untuk menyampaikan pikiran dan perasaannnya sebagai alat komunikasi. Ada banya definisi bahasa yang disampaikan beberapa ahli bahasa seperti Yuen Ren Chao, Aristoteles, dan Anton Reicheling dalam makna dan peranan bahasa. Dalam hubungan dengan peran, bahasa memiliki beberapa fungsi, antara lain fungsi kreatif.
Dalam menggunakan bahasa, orang senantiasa berfikir untuk memahami makna yang terkandung dalam kata-kata. Situasi ini menghubungkan bahasa dengan filsafat, karena filsafat menawarkan kesempatan untuk berpikir dengan cara mengajukan pertanyaan.
Menurut Heidegger, bahasa sebagai suatu proses, gerakan, dan suatu jalan. Pemahaman suatu teks terletak pada mendengarkan lewat bahasa manusia tentang hal yang dikatakan. Masalah bahasa ditemukan Heidegger lewat disiplin ilmu teologi yang bernama hermenuetika (Poespoprodjo,interpretasi,hal :90-91).
Mitos dan simbol, walaupun berbeda dalam menyumbangkan kekayaan berpikir, namun keduanya termasuk dalam proses berpikir. Bila orang berangkat dari mitos ke simbol, akan terjadi perpindahan makna. Maksudnya dari kenyataan fisik beralih ke makna suara hati. Contohnya kata “kotor” dalam arti utamanya mengacu pada sifat fisik, namun bila istilah ini diangkat ke tingakat simbolik kata “kotor” bias berarti seorang pendosa (Lorens Bagus,Silabus Logika dan Bahasa, hal 8-9). Ricoeur membedakan tiga bentuk simbol, yaitu kosmik, onirik, dan poetik.
Menurut Paul Ricoeur, hermenuetika adalah teori cara menggunakan pemahaman dalam hubungan dengan interpretasi suatu teks. Sedangkan teks adalah suatu karya tulis dengan struktur yang menyeluruh. Karya tulis yang dimaksudkan bias dalam bentuk karya sastra misalnya novel, puisi, ataupun drama.
Dalam mengevaluasi suatu karya sastra dengan menggunakan simbol, biasanya dilakukan melalui pendekatan eksponensial. Ungkapan-ungkapan tematis dalam suatu karya sastra biasanya disampaikan lebih banyak secara implicit daripada eksplisit, oleh karena itu ungkapan tersebut diutarakan melalui kekuatan simbol dan citra. Pendekata eksponensial juga disebut pendekatan simbolik (Wilfred L. Guerin, A. Handbook of Critical Approaches to Literature, hal 197).
Sastrawan dalam menciptaka karyanya pasti memiliki gagasan yang ingin disampaikan. Maka sastrawan menggunakan kata-kata yang spesifik dan mengolah sedemikian rupa sehingga menghasilkan suatu karya yang indah, menarik dan mengandung moral values.
Dalam jurnal ini, pertama Dra. Albertine S. Minderop, M.A. mengungkapkan arti simbol dalam Drama The Glass Menagerie karya Tennessee Williams. Simbol tersebut yaitu the glass menagerie, hello goodbye, unicorn, victrola (phonograph), werehouse, movies, candles out, the falling of unicorn, dan photograph. Berikutnya simbol dalam drama Heartbreak House, terdapat beberapa simbol seperti : horses, stables, house/ship, sea, dan heartbreak house. Dra. Albertine S. Minderop, M.A. juga mengungkapkan beberapa arti simbol dalam novel The Scarlet Letter, seperti rose, herbs/weeds, dan graveyard.





B.     Analisis Jurnal Makna Simbol Dalam Karya Sastra
Jurnal ini membahas hubungan bahasa simbol yang terdapat dalam karya sastra. Pembahasan dalam jurnal  ini sangat baik untuk menambah wawasan bagi pembaca karya sastra, sehingga pembaca dapat mengetahui makna dari simbol-simbol yang dijelaskan melalui pembahasan ini dan juga memahami hal-hal yang ingin disampaikan penulis dalam  karya sastranya. Implikasinya, pembaca dapat juga mengartikan simbol-simbol yang digunakan dalam karya sastra lainnya.  
 Dalam jurnal ini berisi pembahasan simbol dalam karya sastra drama dan novel luar negeri, yaitu drama The Glass Menagerie, Heartbreak House, dan novel The Scarlet Letter. Menurut saya masih banyak karya sastra terkenal yang dibuat oleh sastrawan Indonesia yang menggunakan simbol-simbol dalam karyanya, sehingga akan lebih menarik dan familiar bagi pembaca untuk membaca hasil penelitian ini, tetapi setelah  saya mencari tahu bahwa penulis adalah seorang dosen sastra Inggris, maka wajar saja jika beliau memilih karya sastra yang berbahasa Inggris. Hanya saja saran saya pada penelitian berikutnya, untuk membahas juga penggunaan simbol dalam sastra Indonesia.
Pembahasan dalam mengkaji simbol-simbol dalam drama The Glass Menagerie, Heartbreak House, dan novel The Scarlet Letter sudah baik dan jelas, tetapi menurut saya sebelum memaparkan maksud dari simbol tersebut akan lebih baik jika simbol yang akan dijelaskan, diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan dijelaskan makna denotatifnya terlebih dahulu, sehingga pembaca dapat membedakan makna denotatif dan makna kias dari simbol tersebut.
Penjelasan pendekatan yang digunakan sudah baik, yaitu menggunakan pendekatan eksponensial. Struktur penulisan dalam jurnal ini juga sistematik, penulis memaparkan abstract, pendahuluan, kajian teori, pembahasan, simpulan, dan daftar pustaka serta terdapat catatan kaki.



Analisis bahasa dalam jurnal ini, bahasa yang digunakan dalam jurnal ini cukup komunikatif sehingga mudah dipahami oleh pembaca. Dalam jurnal ini juga terdapat beberapa kesalahan penulisan, seperti pada kata “mempengaruhinya" seharusnya “memengaruhi” dan  hekakat" seharusnya “hakekat” (halaman 14), “sastarwan” seharusnya “sastrawan” dan “pendekaan” seharusnya “pendekatan” (halaman 16), “lakuan” seharusnya “perilaku” (halaman 17), “mempengaruhi” seharusnya “memengaruhi” (halaman 21).

Ucapan ultah


ila bertemu denganMu
ku ingin bisa membuatmu selalu tersenyum
ang Aku harapkan Kau bisa selalu menemaniKu begitu juga Aku
ntuk Kita di Masa depan J

py B’day Ayank
che ucapkan untuk orang yang spesial di hatiKu
asa sayangKu yang mengantarkan semua ini
N Aku do’akan supaya semua harapanMu di usia 22 ini tercapai
rang-orang terdekatMu juga pasti mendo’akan supaya Ayankq
akin dewasa, cepet wisuda, cepet kerja, makin sayang & disayang sama
rang tua, keluarga, Aku & teman-teman lainnya J

ku Cuma bisa memberi do’a yang terbaik untukMu dan
ika masih boleh aku mengatakan
I   U




Sabtu, 10 Maret 2012

Agrowisata Sondokoro Kenangan 18 December 2011


Haii sobat blogger,
Mau cerita soal piknikKu lagi niih,kali ini ceritanya di Agrowisata Sondokoro,KarangAnyar. Aneh ya namanya?Hihiii…
Awalnya juga aku bingung, waktu pertama kali diajak someoneKu kesana sampe gga kebayang tempat apa yang bakal aku datengin inii, ada rasa takut juga jangan2 tempat horror hiii takuuut,tapi karena someone yang ngajak yaa percaya aja dech… Cie_elllaaaaaaaaaaaaaa ^_^
Agrowisata Sondokoro, tempatnya asik (kalo dating dg orang yg asik hehee), rame juga ternyata,waktu itu hari libur (minggu) jadi lumayan banya yang dating kesana. Kalo aku bilang sii ya ini tempat wisata,soalnya ada cukup banyak tempat yang bias dikunjungi sampe ga bias aku sebut satu persatu (LUPA) heheee…
HTMnya pas hari libur (minggu) Rp 5000/orang, anak kecil gga tau. Tapi HTM itu belum termasuk wahana lainnya (Cuma masuk doank!). kalo Cuma masuk doank juga ggak rugi kok, enak tau tempatnya adem,banyak lokasi yang pass buat foto-foto (narsiiisss). Tempat yang pas buat ajak anak & keluarga melepas penat & refreshing hemat hihiii, soalnya anak2 juga pasti suka, kalo yang mau sekadar jalan dengan someonenya doank juga boleh, kayak aku ^_^














KEBUN BINATANG JURUG Kenangan 17 Mey 2011


Haii sobat blogger,
Aku mau nyeritain niih pengalamanKu piknik ke BonBin Jurug, Surakarta, Jawa Tengah. Kebun binatang ini letaknya nggak jauh dari pusat Kota Solo, emang agak pinggir tapi lebih dekat dengan Universitas Sebelas Maret (UNS). So, buat mahasiswa UNS, aneh rasanya kalo belum pernah ke BonBin Jurug, soalnya jaraknya paling Cuma 1Km dari kampus UNS. Karena saia mahasiswa UNS makanya mampir ke Bonbin Jurug!!!
BonBin Jurug inii mematok tiket masuk Rp 8000,00/Orang (Kalo belum ganti lho yaa…? ^_^ ), terus untuk hari libur gak sampe 2x lipat kok. BonBin Jurug sebenarnya tempat yang bagus untuk edukasi & rekreasi, ga sedikit keluarga yang datang untuk rekreasi disini, ada juga yang cuma pacaran,hehee…
Dengan tariff tiket masuk segitu siih buat Aku nggak rugi untuk sekedar refreshing,cumin yaa disana nggak begitu bersih (alias agak kotor). Buat sobat blogger yang perfectsionis pasti kapok datang kesana, entah dengan alasan kotor, hewan2nnya nggak lengkap,dll. Tapi memang begitu kenyataannya,hehee…
                Apalagi baru-baru ini ada info kalo salah satu singa di BonBin Jurug lepas, iiiihh wawww ngeri nggak siiih? Tapi semoga saja semua itu jadi perhatian pihak pengelola & pemerintah supaya lebih memperhatikan keselamatan pengunjung & kebersihannya ^_^
                Tapi nggak ada ruginya kok nyoba kesana, beneran dech…! Terutama buat sobat blogger yang suka jalan, soalnya rutenya jauuuh,dan buat sobat blogger yang nggak suka jalan,aku saranin siapin sepatu roda sebelum piknik ke sobat blogger, tapi ada juga yang nyewain delman & kereta mininya buat nganterin sobat blogger berkeliling Bonbin Jurug.
                Kalo sobat blogger mau berkunjung ke Bonbin Jurug aku saranin pake sepatu cats, kaos, celana jeans,pokoknya nyantai aja dech…! Kalo mau hemat bawa minum&makanan sendiri yah,kalo mau beli disana bole juga asal pandai2 milih tempat+makanan. Itu aja dech nanti disambung lagi di piknik berikutnya,
See You
^_^













Minggu, 04 Maret 2012

Seputar UKBI


1.      Apakah pengertian dari Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI)?
Jawab: Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) adalah uji kemahiran (proficiency test) untuk mengukur kemahiran berbahasa seseorang dalam berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Indonesia, baik penutur Indonesia maupun penutur asing.

2.      Bagaimana sejarah singkat Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI)?
Jawab: Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI)* dirintis melalui berbagai peristiwa kebahasaan yang diprakarsai Pusat Bahasa, Depdiknas.Gagasan awal terungkap dalam Kongres Bahasa Indonesia IV pada tahun 1983. Selanjutnya, dalam Kongres Bahasa Indonesia V pada tahun 1988 muncul pula gagasan tentang perlunya sarana tes bahasa Indonesia yang standar. Oleh karena itu, Pusat Bahasa mulai menyusun dan membakukan sebuah instrumen evaluasi bahasa Indonesia. Pada awal tahun 1990-an, instrumen evaluasi itu diwujudkan, kemudian dinamai dengan Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI). Sejak saat itu UKBI dikembangkan untuk menjadi tes standar yang dirancang guna mengevaluasi kemahiran seseorang dalam berbahasa Indonesia, baik tulis maupun lisan.

3.      Apa tujuan dilaksanakannya Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI)?
Jawab: Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI), bertujuan untuk mengetahui tingkat kemahiran dalam berbahasa Indonesia.

4.      Berapa seksi yang dilaksanakan saat ujian Kemahiran Berbahasa Indonesia?
Jawab: UKBI meliputi lima seksi, yaitu Seksi I (Mendengarkan), Seksi II (Merespons Kaidah), Seksi III (Membaca), Seksi IV (Menulis), dan Seksi V (Berbicara).

5.      Berapa jumlah soal Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI)?
Jawab: Butir-butir dalam satu baterai UKBI terdiri atas 150 soal yang dituangkan dalam sembilan format.

6.      Apa saja format yang digunakan untuk menguji Kemahiran Berbahasa Indonesia?
Jawab: Format yang digunakan dalam Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia yaitu Format Dialog Singkat (FDS), Format Dialog Panjang (FDP), Format Ceramah Singkat (FCS), Format Isi Rumpang (FIR), Format Pilih Salah (FPS), Format Pilih Benar (FPB), Format Pilih Arti (FPA), Format Pilih Tafsir (FPT), dan Format Bacaan Singkat (FBS).

7.      Apa saja materi yang disampaikan dalam Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI)?
Jawab:
Layaknya TOEFL UKBI ini juga memiliki serangkaian materi, diantaranya adalah:
a.       Mendengar (listening) tes untuk mengukur kemampuan memahami bahasa lisan;
b.      Merespon kaidah (mengukur kemampuan merespon penggunaan kaidah bahasa Indonesia
ragam formal yaitu ejaan, bentuk kata dan kiksi serta kalimat);
c.       Membaca (reading), tes untuk mengukur kemampuan memahami isi wacana tulis);
d.      Menulis; dan
e.       Berbicara.

8.      Kategori apa saja yang digunakan untuk menilai hasil tes Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) ?
Jawab:
Untuk menilai hasil tes Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia, ada tujuh kategori yang berurutan,yaitu :
a. Istimewa
b. Sangat Unggul
c. Unggul
d. Madya
e. Semenjana
f. Margina

9.      Apa acuan yang digunakan dalam Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI)?
Jawab:
Kriteria yang diacu oleh UKBI berupa penggunaan bahasa Indonesia dalam kehidupan nyata
penutur bahasa Indonesia. Penggunaan bahasa dalam kehidupan nyata tersebut dikelompokkan ke dalam beberapa ranah komunikasi yang merujuk pada ranah
kecakapan hidup umum, yaitu ranah kesintasan dan ranah kemasyarakatan serta
ranah kecakapan hidup khusus, yaitu ranah keprofesian dan ranah keilmiahan.

10.  Apa saja keuntungan mengikuti Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI)?
Jawab:
Dengan UKBI seseorang dapat mengetahui mutu kemahirannya dalam berbahasa Indonesia tanpa mempertimbangkan di mana dan berapa lama ia telah belajar bahasa Indonesia. Sebagai tes bahasa untuk umum, UKBI terbuka bagi setiap penutur bahasa Indonesia, terutama yang berpendidikan, baik warga negara Indonesia maupun warga negara asing. Dengan UKBI, instansi pemerintah dan swasta dapat mengetahui mutu karyawan atau calon karyawannya dalam berbahasa Indonesia. Demikian pula, perguruan tinggi dapat memanfaatkan UKBI dalam seleksi penerimaan mahasiswa.

Senin, 13 Februari 2012

Enam Prinsip Pacaran :)

Jika kita mencintai seseorang
jangan ragu untuk berkorban baginya,
walau nanti terasa berat,
namun lakukanlah demi cinta.

Jika kita mencintai seseorang
jangan pernah membuatnya terluka,
walau sulit ‘tuk mngukir setia
namun itulah awal menuju cinta sejati.

Jika kita mencintai seseorang
jangan pernah membuatnya merasa terdesak,
memilih diantara yang dicintainya,
membiarkannya bingung dalam dilema.

Jika kita mencintai seseorang
jangan pernah biarkan dia merasa sendiri,
menanggung lukanya seorang diri,
tanpa punya teman berbagi.

Jika kita mencintai seseorang
jangan pernah segan untuk menegurnya,
menariknya dari tepi jurang dalam,
menjauhkannya dari kata penyesalan.

Jika kita mencintai seseorang
jangan pernah hilangkan percaya,
tak perlu menyiksa diri dalam curiga,
membawa  diri dalam sakit hati.

Thank you for loving me
Treat like love wanna be
Promise it will never end
Through good and bad time
Thank you for loving me
Gave all your love just for me
Nothing that I could give
Just all the love in me