Pages - Menu

Suci Wulandari

Suci Wulandari
Suci Wulandari

Jumat, 30 September 2011

BAHASA DAN BERBAHASA


A.    Hakikat Bahasa
Banyak orang yang mendefinisikan bahasa sebagai suatu system simbol lisan yang arbitrer yang dipakai oleh anggota suatu masyarakat bahasa untuk berkomunikasi dan berinteraksi antar sesamanya, berdasarkan pada budaya yang mereka miliki bersama. (Soenjono, 2003: 16)
Berikut ini ada beberapa pendapat dari para ahli untuk mengungkapkan apa itu bahasa, antara lain:
  1. Menurut Sapir (1921) dalam A. Chaedar Alwasilah (1990) dalam....... bahwa bahasa adalah “A purely human and non-instinctive method of communicating ideas, emotions, and desires, by means of a system of voluntarily produced symbols.”
Dalam batasan tersebut ada lima butir terpenting yaitu bahwa bahasa itu:
a.       Manusiawi
Manusiawi karena hanya manusialah yang memiliki sistem simbol untuk berkomunikasi. Binatang pun dapat berkomunikasi, dan mempunyai sistem bunyi, tetapi sistem itu bukanlah kata-kata. Dengan demikian mereka tidak memiliki bahasa. Manusia telah berbahasa sejak dini sejarahnya, dan perkembangan bahasanya inilah yang membedakan manusia dari makhluk lain; hingga membuat dirinya mampu berpikir.
b.      Dipelajari
Dipelajari, karena manusia ketika lahir tidak langsung mampu berbicara. Seiring dengan perkembangan anak, anak akan mempelajari bahasa dengan memperhatikan orang lain untuk berkomunikasi dengan orang lain.
c.       Sistem
Bahasa memiliki seperangkat aturan yang dikenal para penuturnya. Perangkat inilah yang menentukan struktur apa yang diucapkannya. Struktur ini disebut grammar. Aturan ini dibuat dan diubah oleh orang-orang yang menggunakannya. Aturan ini ada karena para penuturnya menggunakan bahasa dalam cara tertentu dan tidak dalam cara lain. Dan karena ada kesepakatan umum tentang aturan ini maka orang menggunakan bahasa dalam cara tertentu yang memiliki arti. Dikarenakan ada kesepakatan inilah maka kita bisa mempelajari dan mangajarkan bahasa apa saja.
d.      Arbitrer
Bahasa mempergunakan bunyi-bunyi tertentu dan disusun dalam cara tertentu pula adalah secara kebetulan saja. Orang-orang melambangkan satu kata saja untuk melambangkan satu benda, misalnya kata kuda ditujukan hanyalah untuk binatang berkaki empat tertentu karena orang lain berbuat demikian. Demikian pula kalimat berbeda dari satu bahasa ke bahasa lainnya. Dalam bahasa Latin kata kerja cenderung menempati posisi akhir, dalam bahasa Perancis kata sifat diletakkan setelah kata benda seperti halnya bahasa Indonesia. Ini adalah semua karena kebetulan saja.
e.       Simbolik
Bahasa terdiri atas rentetan simbol arbitrer yang memiliki arti. Kita bisa menggunakan simbol-simbol ini untuk berkomunikasi sesama manusia karena manusia sama-sama memiliki perasaan, gagasan, dan keinginan. Dengan demikian kita menerjemahkan orang lain atas acuan pada pengalaman diri sendiri. Kalau kita mengerti ujaran orang yang berkata, “Saya lapar”, ini karena kita pun biasa mengalami peristiwa lapar itu. Sistem bahasa apapun memungkinkan kita membicarakan sesuatu walau tidak ada di lingkungan kita. Kita pun bisa membicarakan sesuatu peristiwa yang sudah terjadi atau yang akan terjadi. Ini dimungkinkan karena bahasa memiliki daya simbolik, untuk membicarakan konsep apapun juga. Ini pulalah yang memungkinkan manusia memiliki daya penalaran (reasoning).
  1. Harimurti Kridalaksana (1983)
Bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer yang dipergunakan oleh para anggota kelompok sosial untuk bekerja sama, berkomunikasi, dan mengidentifikasikan diri.
Dari definisi tersebut dapat diuraikan beberapa ciri atau sifat yang hakiki dari bahasa, antara lain: (1) bahasa itu adalah sebuah sistem, (2) bahasa itu berwujud lambang, (3) bahasa itu berupa bunyi, (4) bahasa itu bersifat arbitrer, (5) bahasa itu bermakna, (6) bahasa itu bersifat konvensional, (7) bahasa itu bersifat unik, (8) bahasa itu bersifat universal, (9) bahasa itu bersifat produktif, (10) bahasa itu bervariasi, (11) bahasa itu bersifat dinamis, (12) bahasa itu berfungsi sebagai alat interaksi sosial, dan (13) bahasa itu merupakan identitas penuturnya.
  1. Stephen Ullmam (1977) Semantics An Introduction to the Science of Meaning
(1) Language is a vehicle of communication. Language is code.
(2) Language exists in a potential state.
(3) Language is a social institution
(4) Language is fixed.
(5) Language is slow moving.
(6) Language is purely psychological.
  1. Bahasa adalah sistem simbol vokal yang arbitrar yang memungkinkan semua orang dalam suatu kebudayaan tertentu, atau orang lain yang mempelajari sistem kebudayaan itu, berkomunikasi atau berinteraksi (Finocchiaro, 1964 : 8).
  2. Bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer yang dipergunakan oleh para anggota kelompok sosial untuk bekerja sama, berkomunikasi, dan mengidentifikasi diri (Kridalaksana dalam Kentjono, 1982: 2).
  3. Bahasa adalah sistem bunyi dan urutan bunyi vokal yang terstruktur yang digunakan, atau dapat digunakan, dalam komunikasi interpersonal oleh sekelompok manusia dan secara lengkap digunakan untuk sesuatu, peristiwa, dan proses yang terdapat di sekitar manusia (carrol, 1961 :10)
Berdasarkan pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa bahasa adalah sistem lambang bunyi oral yang arbitrer yang dipergunakan oleh sekelompok masyarakat sebagai alat untuk berkomunikasi, bekerja sama dan mengidentifikasikan diri.

Berdasarkan pengertian bahasa di atas, dapat diketahui tentang karakteristik bahasa, antara lain oral, sistematis, arbitrer, konvensional, unik dan universal, beragam, berkembang, produktif, fenomena sosial, dan bersifat insani.
  1. Oral
Ciri bahwa bahasa adalah bunyi adalah wajar mengingat kenyataan bahwa pengalaman berbahasa yang paling umum pada manusia adalah berbicara dan menyimak. Kehadiran bunyi bahasa lebih dulu daripada kehadiran tulisan. Sehubungan dengan itu, Bloomfield (1979) menyatakan bahwa bahasa pada hakikatnya adalah lisan (oral).
  1. Sistematis
Bahasa memiliki sifat sistematis yang berarti bahwa dalam bahasa itu terdapat aturan atau kaidah. Beroperasinya bahasa selalu terikat pada aturan-aturan atau kaidah-kaidah bahasa yang berlaku. Karena itu pula dapat dikatakan bahwa bahasa itu teratur.
  1. Arbitrer dan simbolis
Ciri arbitrer ini tampak pada hubungan antara lambang dan yang dilambangi dalam pengertian bahwa tidak ada hubunga langsung antara lambang dan yang dilambangi. Sifat arbitrer itu hanya berlaku dalam masyarakat bahasa dalam bentuk kesepakatan dan konvensi.
  1. Konvensional
Bahasa dapat disebut konvensional, sebagai sifat hasil kesepakatan. Hal yang perlu dipahami adalah kenyataan bahwa kesepakatan itu bukanlah formal yang dinyatakan melalui musyawarah, sidang, rapat atau kongres, atau rapat raksasa, untuk menentukan lambang tertentu.
  1. Unik dan universal
Setiap bahasa memiliki ciri khasnya sendiri yang tidak terdapat dalam bahasa lain. Dengan kata lain setiap bahasa memiliki ciri-ciri yang diskrit, yang memberikan identitas diri sebagai bahasa yang berbeda dari yang lain.
  1. Beragam
Perwujudan bahasa tidaklah monolitik, satu maujud yang menunjukkan keseragaman. Dengan kata lain bahasa itu beragam.
  1. Berkembang
Karakter ini berlaku pada bahasa yang masih hidup, seperti bahasa Indonesia, bahasa Banjar, bahasa Inggris, bahasa Perancis, bahasa Madura, dan lain-lain.
  1. Produktif
Pemakai bahasa dengan pola-pola dan lambang-lambang yang terbatas dapat mengkreasi hal-hal baru (new world) melalui bahasa. Kridalaksana (dalam Kentjono (ed.), 1982) mengartikan produktifitas itu dari perbandingan unsur dan pemakainya. Dari unsur-unsur yang terbatas bahasa dapat dipakai secara tidak terbatas oleh pemakainya.


  1. Fenomena sosial
Bahasa itu merupakan fenomena sosial. Bahasa itu sudah menyatu benar dengan orang yang menggunakannya karena bahasa itu berkembang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik kebudayaan, maka setiap bahasa merefleksikan kebudayaan masyarakat pemakainya.
  1. Bersifat insani
Bahasa merupakan suatu aspek perilaku yang bisa dipelajari hanya oleh manusia. Bahasa menumbuhkembangkan kemampuan manusia untuk berkomunikasi dan menempatkan peradabannya jauh diatas berbagai bentuk kehidupan makhluk yang lebih rendah.

B.     Fungsi Bahasa
Fungsi bahasa adalah alasan-alasan mengapa seseorang berbicara. Fungsi bahasa pada umumnya mengkomunikasikan apa yang ingin disampaikan. Ada dua macam fungsi bahasa, yaitu :
·         Fungsi bahasa yang bersifat intrapersonal (mathetik), yaitu penggunaan bahasa untuk memecahkan persoalan (problem solving), mengambil keputusan (decision making), berpikir, mengingat, dan sebagainya.
·         Fungsi bahasa yang bersifat interpersonal (progmatik), yaitu yang menunjukkan adanya suatu pesan atau keinginan penutur (message). Biasanya diungkapkan dalam bentuk kalimat perintah, kalimat tanya dan kalimat berita.
Fungsi bahasa yang paling utama sejak seseorang belajar bahasa adalah untuk komunikasi. Komunikasi dengan bahasa diadakan melalui dua macam aktivitas manusia yang mendasar, yaitu dengan berbicara dan mendengarkan (Clark & Clark,1977).
Pada dasarnya, bahasa memiliki fungsi-fungsi tertentu yang digunakan berdasarkan kebutuhan seseorang, yakni sebagai alat untuk mengekspresikan diri, sebagai alat untuk berkomunikasi, sebagai alat untuk mengadakan integrasi dan beradaptasi sosial dalam lingkungan atau situasi tertentu, dan sebagai alat untuk melakukan kontrol sosial.
  1. Bahasa sebagai Alat Ekspresi Diri
Pada awalnya, seorang anak menggunakan bahasa untuk mengekspresikan kehendaknya atau perasaannya pada sasaran yang tetap, yakni ayah-ibunya. Dalam perkembangannya, seorang anak tidak lagi menggunakan bahasa hanya untuk mengekspresikan kehendaknya, melainkan juga untuk berkomunikasi dengan lingkungan di sekitarnya. Setelah kita dewasa, kita menggunakan bahasa, baik untuk mengekspresikan diri maupun untuk berkomunikasi. Contohnya, seorang penulis mengekspresikan dirinya melalui tulisannya.
Sebagai contoh lainnya, tulisan kita dalam sebuah buku,  merupakan hasil ekspresi diri kita. Pada saat kita menulis, kita tidak memikirkan siapa pembaca kita. Kita hanya menuangkan isi hati dan perasaan kita tanpa memikirkan apakah tulisan itu dipahami orang lain atau tidak.
Pada saat menggunakan bahasa sebagai alat untuk mengekspresikan diri, si pemakai bahasa tidak perlu mempertimbangkan atau memperhatikan siapa yang menjadi pendengarnya, pembacanya, atau khalayak sasarannya. Ia menggunakan bahasa hanya untuk kepentingannya pribadi. Fungsi ini berbeda dari fungsi berikutnya, yakni bahasa sebagai alat untuk berkomunikasi.
Sebagai alat untuk menyatakan ekspresi diri, bahasa menyatakan secara terbuka segala sesuatu yang tersirat di dalam dada kita, sekurang-kurangnya untuk memaklumkan keberadaan kita. Unsur-unsur yang mendorong ekspresi diri antara lain :
-         agar menarik perhatian orang  lain terhadap kita,
-         keinginan untuk membebaskan diri kita dari semua tekanan emosi
  1. Bahasa sebagai Alat Komunikasi
Sebagai alat komunikasi, bahasa merupakan saluran perumusan maksud kita, melahirkan perasaan kita dan memungkinkan kita menciptakan kerja sama dengan sesama warga. Ia mengatur berbagai macam aktivitas kemasyarakatan, merencanakan dan mengarahkan masa depan kita (Gorys Keraf, 1997 : 4).
Pada saat kita menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi, kita sudah memiliki tujuan tertentu. Kita ingin dipahami oleh orang lain. Kita ingin menyampaikan gagasan yang dapat diterima oleh orang lain. Kita ingin membuat orang lain yakin terhadap pandangan kita. Kita ingin mempengaruhi orang lain. Lebih jauh lagi, kita ingin orang lain membeli hasil pemikiran kita. Jadi, dalam hal ini pembaca atau pendengar atau khalayak sasaran menjadi perhatian utama kita. Kita menggunakan bahasa dengan memperhatikan kepentingan dan kebutuhan khalayak sasaran kita.
Pada saat kita menggunakan bahasa untuk berkomunikasi, antara lain kita juga mempertimbangkan apakah bahasa yang kita gunakan laku untuk dijual. Oleh karena itu, seringkali kita mendengar istilah “bahasa yang komunikatif”. Misalnya, kata makro hanya dipahami oleh orang-orang dan tingkat pendidikan tertentu, namun kata besar atau luas lebih mudah dimengerti oleh masyarakat umum. Kata griya, misalnya, lebih sulit dipahami dibandingkan kata rumah atau wisma. Dengan kata lain, kata besar, luas, rumah, wisma, dianggap lebih komunikatif karena bersifat lebih umum. Sebaliknya, kata-kata griya atau makro akan memberi nuansa lain pada bahasa kita, misalnya, nuansa keilmuan, nuansa intelektualitas, atau nuansa tradisional.
  1. Bahasa sebagai Alat Integrasi dan Adaptasi Sosial
Anggota-anggota masyarakat  hanya dapat dipersatukan secara efisien melalui bahasa. Bahasa sebagai alat komunikasi, lebih jauh memungkinkan tiap orang untuk merasa dirinya terikat dengan kelompok sosial yang dimasukinya, serta dapat melakukan semua kegiatan kemasyarakatan dengan menghindari sejauh mungkin bentrokan-bentrokan untuk memperoleh efisiensi yang setinggi-tingginya. Ia memungkinkan integrasi (pembauran) yang sempurna bagi tiap individu dengan masyarakatnya (Gorys Keraf, 1997 : 5).
Cara berbahasa tertentu selain berfungsi sebagai alat komunikasi, berfungsi pula sebagai alat integrasi dan adaptasi sosial. Pada saat kita beradaptasi kepada lingkungan sosial tertentu, kita akan memilih bahasa yang akan kita gunakan bergantung pada situasi dan kondisi yang kita hadapi. Kita akan menggunakan bahasa yang berbeda pada orang yang berbeda. Kita akan menggunakan bahasa yang nonstandar di lingkungan teman-teman dan menggunakan bahasa standar pada orang tua atau orang yang kita hormati.
Pada saat kita mempelajari bahasa asing, kita juga berusaha mempelajari bagaimana cara menggunakan bahasa tersebut. Misalnya, pada situasi apakah kita akan menggunakan kata tertentu, kata manakah yang sopan dan tidak sopan.  Demikian pula jika kita mempelajari bahasa asing. Jangan sampai kita salah menggunakan tata cara berbahasa dalam budaya bahasa tersebut. Dengan menguasai bahasa suatu bangsa, kita dengan mudah berbaur dan menyesuaikan diri dengan bangsa tersebut.


  1. Bahasa sebagai Alat Kontrol Sosial
Sebagai alat kontrol sosial, bahasa sangat efektif. Kontrol sosial ini dapat diterapkan pada diri kita sendiri atau kepada masyarakat. Berbagai penerangan, informasi, maupun pendidikan disampaikan melalui bahasa. Buku-buku pelajaran dan buku-buku instruksi adalah salah satu contoh penggunaan bahasa sebagai alat kontrol sosial.
Ceramah agama atau dakwah merupakan contoh penggunaan bahasa sebagai alat kontrol sosial. Iklan layanan masyarakat atau layanan sosial merupakan salah satu wujud penerapan bahasa sebagai alat kontrol sosial. Semua itu merupakan kegiatan berbahasa yang memberikan kepada kita cara untuk memperoleh pandangan baru, sikap baru, perilaku dan tindakan yang baik. Di samping itu, kita belajar untuk menyimak dan mendengarkan pandangan orang lain mengenai suatu hal.
Contoh fungsi bahasa sebagai alat kontrol sosial yang sangat mudah kita terapkan adalah sebagai alat peredam rasa marah. Menulis merupakan salah satu cara yang sangat efektif untuk meredakan rasa marah kita. Tuangkanlah rasa dongkol dan marah kita ke dalam bentuk tulisan. Biasanya, pada akhirnya, rasa marah kita berangsur-angsur menghilang dan kita dapat melihat persoalan secara lebih jelas dan tenang.


C.    Proses Bahasa dan Berbahasa
Proses bahasa adalah suatu deskripsi tentang alat-alat, materi, dan prosedur yang ada dalam mental kita yang dipergunakan manusia untuk memproduksi dan mengerti bahasa. Jadi, berkaitan dengan persepsi manusia terhadap bahasa dan produksi bahasa. Yang dimaksud persepsi bahasa adalah kemampuan manusia untuk menganalisa bunyi ujaran dan mengidentifikasikannya sebagai suatu kata atau kalimat, serta menangkap ide-ide yang terkandung dalam kalimat tersebut. Persepsi bahasa ini tidak hanya persepsi auditif, artinya bagaimana kita menganalisa bunyi melalui teling, tetapi juga menyangkut persepsi lainnya seperti fonetik, persepsi kategorinal, adaptasi selektif, daya ingat auditif (auditary memory) dan lain-lain (Clark & Clark, 1977,halaman 175)
Mengenai proses mental yang terjadi ketika kita berbicara atau ketika kita menangkap suatu pembicaraan, merupakan suatu kejadian yang rumit. Kita akan bertanya bagaimana suatu kalimat dimengerti fungsinya oleh pendengar sebagai suatu suruhan atau pemberitahuan dan bagaimana kalimat sindiran dapat ditangkap maknanya. Dalam hal ini, peranan berpikir dan fungsi-fungsi lainnya ikut berperan, bahkan mengambil peranan yang sangat penting.
Proses Berbahasa adalah Proses mental yang terjadi pada waktu kita berbicara ataupun proses mental yang menjadi dasar pada waktu kita mendengar, mengerti, dan mengingat dapat diterangkan dengan suatu sistem kognitif yang ada pada manusia.
Manusia mempunyai suatu sistem penggunaan bahasa dan psikologi bahasa mempelajari cara kerja dari sistem ini. Sistem ini dapat menerangkan misalnya, bagaimana manusia dapat menyampaikan pikiran dengan kata-kata (produksi bahasa) dan bagaimana manusia dapat mengerti “isi pikiran” atau makna dari suatu kalimat yang diucapkan atau ditulis (persepsi bahasa).
Menurut Moulton (1976) terdapat 11 tahapan proses bahasa dari pembicara sampai pada pendengar pada saat berkomunikasi, yaitu :
1.      Membuat kode semantis
2.      Membuat kode gramatikal
3.      Membuat kode fonologis
4.      Perintah otak
5.      Gerakan alat ucap
6.      Bunyi yang berupa getaran
7.      Perubahan getaran melalui telinga pendengar
8.      Getaran diteruskan ke otak
9.      Pemecahan kode fonologis
10.  Pemecahan kode gramatikal
11.  Pemecahan kode semantis

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar