Pages - Menu

Suci Wulandari

Suci Wulandari
Suci Wulandari

Kamis, 09 Februari 2012

ANALISIS PEMEROLEHAN BAHASA PADA ANAK USIA 18 BULAN


BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Setiap manusia mengawali komunikasinya dengan dunia sekitarnya melalui bahasa tangis. Melalui bahasa tersebut seorang bayi mengkomunikasikan segala kebutuhan dan keinginannya. Sejalan dengan perkembangan kemampuan serta kematangan jasmani terutama yang bertalian dengan proses bicara, komunikasi tersebut makin meningkat dan meluas, misalnya dengan orang di sekitarnya lingkungan dan berkembang dengan orang lain yang baru dikenal dan bersahabat dengannya.
Oleh karera itu, perkembangan bahasa dimulai dari tangisan pertama sampai anak mampu bertutur kata. Perkembangan bahasa terbagi atas dua periode besar, yaitu: periode Prelinguistik (0-1 tahun) dan Linguistik (1-5 tahun). Mulai periode linguistik inilah anak mulai  mengucapkan kata kata yang, pertama. Periode linguistik terbagi dalam tiga fase besar, yaitu:
1. Fase satu kata atau Holofrase
Pada fase ini anak mempergunakan satu kata untuk menyatakan pikiran yang kornpleks, baik yang berupa keinginan, perasaan atau temuannya tanpa perbedaan yang jelas. Pada umumnya kata pertama yang diurapkan oleh anak adalah kata benda, setelah beberapa waktu barulah disusul dengan kata kerja.
2. Fase lebih dari satu kata
Fase dua kata muncul pada anak berusia sekitar 18 bulan. Pada fase ini anak sudah dapat membuat kalimat sederhana yang terdiri dari dua kata. Kalimat tersebut kadang-kadang terdiri dari pokok kalimat dan predikat, kadang-kadang pokok kalimat dengan obyek dengan tata bahasa yang tidak benar. Setelah dua kata, muncullah kalimat dengan tiga kata, diikuti oleh empat kata dan seterusnya. Pada periode ini bahasa yang digunakan oleh anak tidak lagi egosentris, dari dan uniuk dirinya sendiri. Mulailah mcngadakan komunikasi dengan orang lain secara lancar. Orang tua mulai melakukan tanya jawab dengan anak secara sederhana. Anak pun mulai dapat bercerita dengan kalimat-kalimatnya sendiri yang sederhana.
3. Fase ketiga adalah fase diferensiasi
Periode terakhir dari masa balita yang bcrlangsung antara usia dua setengah sampai lima tahun. Keterampilan anak dalam berbicara mulai lancar dan berkembang pesat. Dalam berbicara anak bukan saja menambah kosakatanya yang mengagumkan akan tetapi anak mulai mampu mengucapkan kata demi kata sesuai dengan jenisnya, terutama dalam pemakaian kata benda dan kata kerja. Anak telah mampu mempergunakan kata ganti orang “saya” untuk menyebut dirinya, mampu mempergunakan kata dalam bentuk jamak, awalan, akhiran dan berkomunikasi lebih lancar lagi dengan lingkungan.

B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Apa yang dimaksud dengan pemerolehan bahasa itu?
2.      Bagaimana pendekatan mikro dan makro linguistik itu?
3.      Bagaimana analisis keadaan bahasa pada anak usia 18 bulan bila dikaji dengan pendekatan mikro dan makro linguistik?

C.    TUJUAN
1.      Memahami materi mengenai pemerolehan bahasa
2.      Memahami pendekatan mikro dan makro linguistik.
3.      Mengidentifikasi bahasa pada anak usia 18 bulan dengan pendekatan mikro dan makro linguistik.


  
BAB II
PEMBAHASAN

A.      PEMEROLEHAN BAHASA
Penguasaan sebuah bahasa oleh seorang anak dimulai dengan perolehan bahasa pertama yang sering kali disebut bahasa ibu. Pemerolehan bahasa merupakan sebuah proses yang sangat panjang sejak anak belum mengenal sebuah bahasa sampai fasih berbahasa. Setelah bahasa ibu diperoleh maka pada usia tertentu anak lain atau bahasa kedua yang ia kenalnya sebagai khazanah pengetahuan yang baru.
Bahasa ibu adalah bahasa pertama yang dikuasai manusia sejak awal hidupnya melalui interaksi dengan sesama anggota masyarakat bahasanya, seperti keluarga dan masyarakat lingkungan. Hal ini menunjukkan bahasa pertama merupakan suatu proses awal yang diperoleh anak dalam mengenal bunyi dan lambang yang disebut bahasa.
Pemerolehan bahasa  adalah proses yang berlangsung di dalam otak anak-anak ketika dia memperoleh bahasa pertamanya atau bahasa ibunya. Pemerolehan bahasa biasanya dibedakan dengan pembelajaran bahasa. Pembelajaran bahasa berkaitan dengan proses-proses yang terjadi pada waktu seorang anak-anak mempelajari bahasa kedua setelah dia memperoleh bahasa pertamanya. Pemerolehan bahasa adalah suatu proses yang diperlukan oleh anak-anak untuk menyesuaikan serangkaian hipotesis yang semakin bertambah rumit ataupun teori-teori yang masih terpendam atau tersembunyi yang mungkin sekali terjadi dengan ucapan-ucapan orang tuanya sampai ia memilih berdasarakan suatu ukuran atau takaran penilaian, tata bahasa yang baik serta paling sederhana dari bahasa. Lebih jelasnya pemerolehan bahasa diartikan sebagai suatu proses yang pertama kali dilakukan oleh seseorang untuk mendapatkan bahasa sesuai dengan potensi kognitif yang dimiliki dengan didasarkan atas ujaran yang diterima secara alamiah.
Setiap orang pernah menyaksikan kemampuan menonjol pada anak-anak dalam berkomunikasi, mereka berceloteh, mendekur, menagis, dan dengan atau tanpa suara mengirim begitu bayak pesan dan menerima lebih banyak lagi pesan. Ketika beumur satu tahun, mereka berusaha menirukan kata-kata dan mengucapkan suara-suara yang mereka dengar disekitar mereka, dan kira-kira pada saat itulah mereka mengucapkan kata-kata pertama mereka. Kurang lebih umur 18 tahun, kata-kata itu berlipat ganda dan mulai muncul dalam kalimat dua atau tiga umumya disebut ujaran-ujaran “telegrafis (bergaya telegram)”.


TAHAP PEMEROLEHAN BAHASA
1.      Kurang dari 1 tahun 
·         Belum dapat mengucapkan kata-kata,
·         Belum menggunakan bahasa dalam arti yang sebenarnya,
·         Dapat membedakan beberapa ucapan orang dewasa.
2.      1 tahun 
·         Mulai mengoceh,
·         Bermain dengan bunyi (bermain dengan jari-jari tangan dan kakinya)
·         Perkembangan pada tahap ini disebut pralinguistik.
·         Ketika bayi dapat mengucapkan beberapa kata, mereka memiliki ciri-ciri perkembangan yang universal.
·         Bentuk ucapan hanya satu kata, sederhana, mudah diucapkan dan memiliki arti konkrit (nama benda, kejadian atau orang-orang di sekitar anak).
·         Mulai pengenalan semantik (pengenalan makna).
3.      2 tahun 
·         Mengetahui kurang lebih memiliki 50 kata.
·         Kebanyakan mulai mencapai kombinasi dua kata yang dikombinasikan dalam ucapan-ucapan pendek tanpa kata penunjuk, kata depan atau bentuk lain yang seharusnya digunakan.
·         Mulai mengenal berbagai makna kata tetapi tidak dapat menggunakan bentuk bahasa yang menunjukkan jumlah, jenis kelamin, dan waktu terjadinya peristiwa.
·         Mulai dapat membuat kalimat-kalimat pendek.
4.      Taman Kanak-kanak 
·        Memiliki dan memahami sejumlah besar kosa kata,
·        Mampu membuat pertanyaan-pertanyaan, kalimat majemuk dan berbagai bentuk kalimat,
·        Dapat berbicara dengan sopan dengan orang tua dan guru.
5.      Sekolah Dasar 
·        Peningkatan perkembangan bahasa, dari bahasa lisan ke bahasa tulis,
·        Peningkatan perkembangan penggunaan bahasa.

Pemerolehan bahasa seseorang khususnya anak-anak (balita) lebih banyak diperoleh dari faktor keluarga dan lingkungan. Faktor keluarga meliputi ibu, ayah, kakak, dan keluarga lainnya, sedangkan faktor lingkungan tersebut meliputi lingkungan di rumah seperti teman bermain anak. Pemerolehan bahasa pada anak yang sangat bergantung pada peranan orang tua dan lingkungan dalam pembentukan diri serta pemerolehan bahasa.
B.       ANALISIS BAHASA PADA USIA REMAJA DENGAN PENDEKATAN MIKRO DAN MAKRO LINGUISTIK

1.      Pendekatan Mikro linguistik
Pendekatan mikro linguistik merupakan cabang linguistik yang membicarakan tentang cabang bahasa dari internalnya seperti morfologi, fonologi, lesikon, sintaksis. Pemerolehan bahasa pada penelitian ini akan dikaji berdasarkan pendekatan mikro linguistik.
a)      SEMANTIK
Menurut Lyons dalam Sarwiji (2008 : 9) semantik pada umumnya diartikan sebagai suatu studi tentang makna (semantics is generally defined as the study of meaning). Mulyono dalam Sarwiji (2008 : 9) menjelaskan semantik adalah cabang linguistic yang bertugas menelaah makna kata, bagaimana pula bukanya, bagaimana perkembangannya, dan apa saja sebab terjadinya perubahan makna dalam sejarah bahasa.
Semantik disepakati sebagai istilah untuk bidang ilmu bahasa yang membahas atau mempelajari tentang makna atau arti, yang merupakan salah satu tataran analisis bahasa, yaitu fonologi, gramatika atau tata bahasa, dan semantik.
Menurut Pateda dalam Sarwiji (2008 : 43) penjelasan makna dapat dilihat dari tiga segi, yaitu kata, kalimat, dan apa yang dibutuhkan pembicara untuk berbicara. Kridalaksana menjelaskan pengertian makna sebagai berikut:
1)      Maksud Pembicara;
2)      Pengaruh satuan bahasa dalam pemahaman persepsi atau perilaku manusia atau kelompok manusia;
3)      Hubungan, dalam arti kesepadanan atau ketidaksepadanan antara bahasa dan alam di luar bahasa, atau antara ujaran dan semua hal yang ditunjukannya;
4)      Cara menggunakan bahasa.

b)     SINTAKSIS
Sebagai sebuah subsistem bahasa, sintaksis mempersoalkan hubungan antara kata dan satuan-satuan yang lebih besar, membentuk suatu konstruksi yang disebut kalimat, hubungan antara satuan-satuan itu memperlihatkan adanya semacam hierarki atau tata urutan tingkatan. Kalimat adalah satuan adalah satuan bahasa terkecil, dalam wujud lisan atau tulisan, yang mengungkapkan pikiran yang utuh.


Sintaksis memiliki struktur, satuan dan pola-pola tertentu yang akan dibahas lebih lanjut dalam makalah ini.
1)      Struktur Kalimat
Struktur kalimat dalam sintaksis terdiri dari bentuk, kategori, fungsi, dan peran tidak ada hubungan satu lawan satu. Bentuk kalimat di dalam sintaksis terdiri atas kata, frasa atau klausa. Suatu bentuk kata yang tergolong dalam kategori tertentu dapat mempunyai fungsi sintaksis dan peran semantis yang berbeda dalam kalimat. Sementara itu kategori juga dibedakan dari bentuk kata. Dengan kata lain, fungsi merupakan suatu “tempat” dalam struktur kalimat dengan unsur pengisi berupa bentuk (bahasa) yang tergolong dalam kategori tertentu dan mempunyai peran semantis tertentu pula. Kategori sebuah kata, frasa, atau klausa dapat berbentuk nomina, verba, adjektiva, adverbia, dan sebagainya, sedangkan gugus fungsi dapat diisi dengan subjek, predikat, objek, pelengkap, dan keterangan. Peran sintaksis dapat berupa pelaku, perbuatan, sasaran, peruntung, dan waktu.
2)      Satuan Sintaksis
Sintaksis sebagai subsistem bahasa mencakup kata dan satuan-satuan yang lebih besar serta hubungan-hubungan diantaranya. Pada umumnya pembicaraan yang lebih mendalam dalam studi sintaksis selain alat-alat sintaksis adalah satuan sintaksis. Kata merupakan satuan terkecil dalam satuan sintaksis. Satuan yang lebih besar adalah frasa, klausa, dan kalimat. Dalam tataran gramatikal kata adalah satuan terkecil dalam kalimat. Kata memiliki potensi untuk berdiri sendiri dan dapat berpindah dalam kalimat.
Frasa adalah satuan gramatikal yang terdiri dari dua kata atau lebih yang tidak berciri klausa. Seperti halnya dengan kata, frasa memiliki potensi untuk berdiri sendiri menjadi kalimat. Klausa adalah satuan gramatikal yang disusun oleh kata atau frasa, dan yang memiliki satu predikat. Pada umumnya klausa merupakan unsur pembentuk (konstituen) kalimat. Dalam satu klausa hanya terdapat satu predikat  dan dalam klausa terdapat bagian inti dan bukan inti. Klausa juga dapat diperluas, dan perluasan itu dengan menambahkan keterangan waktu, tempat, cara, dan lain sebagainya. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa satuan kalimat dalam sintaksis terdiri atas kata, frasa, dan klausa. 


2.      Pendekatan Makro linguistik
Pendekatan makro linguistik merupakan cabang linguistik yang membicarakan tentang cabang bahasa dari eksternalnya seperti sosiolinguistik, psikolinguistik. Pemerolehan bahasa pada penelitian ini akan dikaji berdasarkan pendekatan makro linguistik.
a.      Sosiolinguistik
Sosiolinguistik merupakan cabang makro linguistik yang ruang lingkupnya mengkaji bahasa dengan masyarakat, khususnya penutur bahasa. Sosiolinguistik dalam konsepnya mempertimbangkan keterkaitan dua hal, yakni dengan linguistik untuk segi kebahasaanya dan dengan sosiologi untuk segi kemasyarakatannya (Kunjana: 2001: 13). Berdasarkan pengertiannya, penelitian ini lebih mengkaji masalah bahasa dengan sosiologi untuk kemasyarakatan.

b.      Psikolinguistik
Psikolinguistik merupakan cabang makro linguistik yang ruang lingkupnya membahas tentang bahasa yang ditinjau dari segi psikologi. Istilah psikolinguistik lahir sebagai ilmu antardisiplin antara psikologi dan linguistik. Menurut Slobin, Meller, dan Slama, psikolinguistik mencoba menguraikan proses-proses psikologi yang berlangsung jika seseorang mengucapkan kalimat-kalimat yang didengarnya pada waktu berkomunikasi, dan bagaimana kemampuan berbahasa itu diperoleh sebagai manusia (Abdul Chaer, 2003: 5).
Maka secara teoretis tujuan psikolinguistik adalah mencari satu teori bahasa yang secara linguistik bisa diterima dan secara psikologi dapat menerangkan hakikat bahasa dan pemerolehannya.


ANALISIS OBSERVASI
            Data Narasumber
            Nama              : Erland Kalingga Satya
Usia                 : 18 bulan
Orang tua       : Ervin Agustiawan
                                      Rini Setyaningsih
Alamat            : Sepanjang, TawangMangu, Karanganyar

Data Pemerolehan Bahasa
No.
Kata
Frasa
Klausa
Kalimat
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
Ai = Hai atau Halo
Apa
Num
Allah
Ndong = Gendong
Aja
Amuh = Kamu
Abu = Ibu
Mbah = Nenek
Wedi = Takut
Bu = Ibu
-
-
-

Analisis Pembahasan Pemerolehan Bahasa :
1.      Kata “Ai”
-          Semantik : kata Ai” yang dimaksudkan anak ini adalah pengucapan kata “Hai atau halo” saat mengangkat telepon.
-          Sintaksis: Pengucapan kata Ai” tersebut masih salah, seharusnya menggunakan kata “Hai atau halo” saat mengangkat telepon.


2.      Kata “Apa”
-          Semantik : kata Apa” yang dimaksudkan anak ini adalah bertanya dengan kata tanya Apa”.
-          Sintaksis: Pengucapan kata Apa” tersebut sudah tepat, tetapi anak masih belum mengerti apa yang akan dia katakan.
3.      Kata “Num”
-          Semantik : kata Num” yang dimaksudkan anak ini adalah meminta minum.
-          Sintaksis: Pengucapan kata Num” tersebut masih salah, seharusnya anak mengucapkan kata “minum” saat meminta minum.
4.      Kata “Allah”
-          Semantik : kata Allah” yang dimaksudkan anak ini adalah Tuhan, walaupun dia belum tahu makna kata “Tuhan” itu sendiri.
-          Sintaksis: Pengucapan kata Allah” tersebut sudah tepat.
5.      Kata “Ndong”
-          Semantik : kata “Ndong yang dimaksudkan anak ini adalah meminta untuk digendong.
-          Sintaksis: Pengucapan kata “Ndong tersebut kurang tepat, seharusnya menggunakan kata “gendong”
6.      Kata “Aja”
-          Semantik : kata Aja” dalam konteks bahasa jawa yang dimaksudkan anak ini adalah melarang.
-          Sintaksis: Pengucapan kata Aja” dalam konteks bahasa jawa tersebut sudah tepat, tetapi bila diubah menjadi kata dalam konteks bahasa Indonesia adalah kata “jangan”.
7.      Kata “Amuh”
-          Semantik : kata Amuh” yang dimaksudkan anak ini adalah menunjuk pada seseorang dihadapannya.
-          Sintaksis: Pengucapan kata Amuh” tersebut kurang tepat, seharusnya anak mengucapkan kata “Kamu”.
8.      Kata “Abu”
-          Semantik : kata Abu” yang dimaksudkan anak ini adalah memanggil ibu.
-          Sintaksis: Pengucapan kata Abu” tersebut kurang tepat, seharusnya anak mengucapkan kata “Ibu”.
9.      Kata “Mbah”
-          Semantik : kata “Mbahdalam konteks bahasa jawa yang dimaksudkan anak ini adalah memanggil neneknya.
-          Sintaksis: Pengucapan kata Mbah” dalam konteks bahasa jawa tersebut sudah tepat, tetapi bila diubah menjadi kata dalam konteks bahasa Indonesia adalah kata “Nenek”.
10.  Kata “Wedi”
-          Semantik : kata “Wedidalam konteks bahasa jawa yang dimaksudkan anak ini adalah dalam keadaan takut.
-          Sintaksis: Pengucapan kata Wedi” dalam konteks bahasa jawa tersebut sudah tepat, tetapi bila diubah menjadi kata dalam konteks bahasa Indonesia adalah kata “Takut”.

11.  Kata “Bu”
-          Semantik : kata Bu” yang dimaksudkan anak ini adalah memanggil ibu.
-          Sintaksis: Pengucapan kata Abu” tersebut kurang tepat, seharusnya anak mengucapkan kata “Ibu”.

BAB III
PENUTUP

A.    SIMPULAN
Bahasa ibu adalah bahasa pertama yang dikuasai manusia sejak awal hidupnya melalui interaksi dengan sesama anggota masyarakat bahasanya, seperti keluarga dan masyarakat lingkungan. Hal ini menunjukkan bahasa pertama merupakan suatu proses awal yang diperoleh anak dalam mengenal bunyi dan lambang yang disebut bahasa
Orang tua dan lingkungan sosial mempunyai andil besar terhadap pemerolehan bahasa yang akan dipelajarinya di lembaga formal. Pemerolehan bahasa pertama anak adalah bahasa daerah karena bahasa itulah yang diperolehnya pertama kali. Perolehan bahasa pertama terjadi apabila seorang anak yang semula tanpa bahasa kini ia memperoleh bahasa. Bahasa daerah merupakan bahasa pertama yang dikenal anak sebagai bahasa pengantar dalam keluarga atau sering disebut sebagai bahasa ibu. Bahasa ibu yang digunakan setiap saat sering kali terbawa ke situasi formal atau resmi yang seharusnya menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Tuturan 1 kata pada saat anak berusia antara 1 tahun sampai 18 bulan dengan mulai mengucapkan rata-rata 15 kata yaitu menyebut nama orang, binatang, atau benda-benda, misalnya bapak, ibu, kucing, boneka.
Berdasarkan hasil analisis pemerolehan bahasa pada anak usia 18 bulan di atas, terdapat kesalahan pada tataran semantik dan pada tataran sintaksis. Pengamatan saya tentang pemerolehan bahasa pada Erland yaitu terdapat penggunaan bahasa jawa dalam percakapannya karena dilihat dari konteks tempat tinggalnya yang masyarakatnya adalah suku jawa, walaupun demikian Erland dalam rekaman yang saya peroleh Erland juga menggunakan bahasa Indonesia saat berkomunikasi.
Ditinjau dari faktor diri, Erland kurang memiliki kemauan yang kuat dalam berkomunikasi, selain karena usianya baru menginjak 18 bulan, hal tersebut juga dikarenakan Erland  termasuk anak yang hyperaktif sehingga kemampuan dalam berkomunikasinya tidak maksimal, dia hanya mengucapkan kata-kata seperlunya. Ditinjau dari faktor lingkungan keluarga, pemerolehan bahasa Erland masih cukup baik karena keluarga selalu melatih Erland untuk berbicara dengan baik.

B.     SARAN
Orang tua dan keluarga sebagai orang terdekat dengan Erland sebaiknya terus melatihnya untuk berbicara dengan baik, baik dalam konteks bahasa Jawa maupun dalam konteks bahasa Indonesia.



DAFTAR PUSTAKA

Chaer, Abdul. 2003. Psikolinguistik Kajian Teoretik. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Chaer, Abdul. 1994. Linguistik Umum. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Dardjowidjojo, Soenjono. 2000. ECHA, Kisah Pemerolehan Bahasa Anak Indonesia. Jakarta.Grasindo.
Suwandi, Sarwiji. 2008. Semantik : Pengantar Kajian Makna. Yogyakarta: Gunung Sempu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar