Pages - Menu

Suci Wulandari

Suci Wulandari
Suci Wulandari

Rabu, 22 Mei 2013

Nilai Pendidikan dalam Naskah Drama Berjudul NYONYA-NYONYA Karya Wisran Hadi


1.      Nilai Keagamaan
Segala sesuatu yang terjadi di dunia ini atas kehendak Tuhan YME, manusia tidak boleh meramalkan apa yang akan terjadi. Hal tersebut terbukti dari cuplikan dialog berikut :
“Drastis! Perubahan cuaca memang sulit dipastikan, walau pun televisi setiap malam mengumumkan ramalannya. Sulitnya di sini, mereka meramal tanpa memperhitungkan kondisi-kondisi lain. Akibatnya, yang jadi korban selalu saja orang-orang seperti saya. Berdiri berjam-jam sejak senja, taksi tak ada yang lewat, dan malam tiba-tiba saja turun!”

2.      Nilai Kultural
Nilai budaya yang muncul ketika tokoh Tuan dan Nyonya berdialog, menunjukkan bahwa dengan adanya perbedaan golongan. Ketika awal babak, dijelaskan melalui dialog yang diungkapkan oleh Tuan dan Nyonya. Terbukti dari cuplikan dialog berikut :
Tuan    : “Benar juga firasat saya. Di mana  pun juga di atas dunia ini, rumah mewah selalu tidak ramah pada tamu!”

Nyonya           : “Tuan jangan bicara macam-macam di sini. Rumahku yang mewah ini dibuat bukan untuk kepentingan ramah tamah, tapi untuk kesenanganku dengan suamiku! Ah, ekornya Tuan. Ekornya, kritik Tuan itu sangat menggelisahkan pemilik rumah mewah lainnya. Pergilah, Tuan! Pergi. aku benci dengan orang-orang yang suka mengkritik, apalagi hanya unuk melindungi kepentingannya sendiri.”

Berdasarkan dialog di atas, bisa diambil simpulan bahwa budaya orang kaya menunjukkan karakter yang sangat tertutup, selain itu juga menunjukkan kesombongan dan rasa keegoisan. Hal ini bisa dibandingakn antara  dialog naskah tersebut dengan kehidupan nyata saat ini. Dalam sastra seperti naskah drama, bisa saja hal itu berkaitan langsung dengan kehidupan nyata. Atau mungkin bahwa maksud pengarang salah satunya yaitu menjelaskan atau mengritik orang-orang kawasan perumahan elit.

Hal ini bisa dibuktikan. Pada masa sekarang terjadi perubahan kontrol tingkahlaku moral: dari luar menjadi dari dalam. Pada masa ini terjadi juga perubahan dari konsep moral khusus menjadi prinsip moral umum pada kalangan orang-orang yang terutama tingaal di kawasan perumahan. Hal ini seperti sudah menjadi budaya konsep perbedaan yang disebabkan adanya stratifikasi social. Karena itu pada masa ini orang perumahan sudah susah didapatkan dan diharapkan untuk mempunyai nilai-nilai moral yang dapat melandasi tingkahlaku moralnya seperti membudayakan sikap sopan santun dengan semua tamu. Walaupun demikian, pada masa sekarang, orang tersebut juga mengalami kegoyahan tingkah laku moral. Hal ini dapat dikatakan wajar, sejauh kegoyahan ini tidak terlalu menyimpang dari moraliatas yang berlaku, tidak terlalu merugikan masyarakat.
Selain hal tersebut, setiap kali menyindir orang lain, tokoh “Nyonya” selalu mengatakan dengan kata-kata “ekornya”. Hal ini diungkapkan dengan maksud tujuan yaitu menyindir sikap org lain yang hendak mengabaikan sopan santun dalam bercakap-cakap ataupun bersikap dengan Nyonya. Hal ini selalu menjadi kebiasaan dalam tokor tersebut. Kata itu sering diucapkan tokoh “Nyonya” terutana saat berbicara dengan keponakannya maupun dengan tokoh “Tuan”. Mungkin hal ini bawaan kebiasaan keseharian tokoh tersebut.


3.      Nilai Sosial
Naskah berjudul Nyonya-Nyonya karya Wisran Hadi merupakan naskah yang menggambarkan sketsa hidup kebanyakan orang di Indonesia pada masa dahulu, bahkan sampai pada saat ini dan akan datang. Ide ceritanya simpel namun sangat menusuk. Naskah ini pernah menjadi pemenang kedua Sayembara Menulis Naskah Drama Dewan Kesenian Jakarta 2003.
Cerita dalam naskah ini merupakan cerita yang lucu dan sederhana, namun menyiratkan suatu kritik sosial yang kompleks. Dalam naskah berlatarkan kebudayaan Minang yang kental itu, tersirat suatu penjungkirbalikan budaya Minang itu sendiri, serta menyinggung elite politik yang sering mempermalukan dirinya sendiri dengan berebut kursi pemerintahan dengan bahasa yang simbolik.
Aspek-aspek sosial yang berhubungan dalam penelitian ini adalah faktor ekonomi, agama, dan budaya. Faktor ekonomi (dalam Radjo, 2008:13) adalah satu syarat yang mutlak bagi satu bangsa, maka adat di Minangkabau sampai sekarang telah menyusun ekonomi masyarakat demi kepentingan kehidupan masyarakat sebagai yang tersimpul dalam pepatah adat yaitu sawah ladang banda buatan. Periharalah sawah nan bapirieng, ladang nan babidang oleh penghulu-penghulu sekarang, tambah dan tukuaklah untuk kepentingan ekonomi anak kemenakan sesuai dengan fungsi penghulu “mamalihara harato pusako, pusako jan lah sumbieng, jan dijua digadaikan, imanah jan sampai ilang, bangso jan pupuih, suku jan sampai baranjak.”
Selanjutnya aspek sosial tentang faktor agama. Eksistensi agama tetap diakui, manakala para pemeluknya, apapun agamanya, masing-masing memiliki peran dan kontribusi yang nyata di tengah-tengah masyarakat, dengan berbagai struktur sosial yang ada. Sehingga agama, mampu memberikan arti dalam kehidupan dan makna manusia seutuhnya, atau dalam istilah L. Berger suatu keharusan fungsional (Functional Imperative) dalam struktur sosialnya (Peter L. Berger, 1985:201).
 Menurut Koentjaraningrat (Elly, 2006: 28-29) mengemukakan kebudayaan itu digolongkan menjadi tiga wujud yaitu: 1) wujud sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, dan peraturan, 2) wujud kebudayaan sebagai suatu yang kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat, dan 3) wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia. Hubungan budaya pada penelitian ini menyangkut pada golongan ke dua pada wujud budaya di atas, karena sistem sosial perwujudan kebudayaan yang bersifat konkret, dalam bentuk perilaku dan bahasa. Dalam adat Minangkabau sedikitpun tidak mengabaikan perikemanusiaan, hingga adat yang asli tidak terpengaruh oleh alam kebendaan (materi) artinya yang tidak hitam dek arang nan tidak kuniang dekkunyik, nan tidak lamak dek santan.
Cerita kehidupan sosial yang diceritakan dalam naskah drama ini berasal dari Minangkabau, memang memberitahukan tentang nilai yang ada di dalam drama ini. Dalam adat Minangkabau telah dijelaskan bahwa sedikitpun tidak pernah mengabaikan perikemanusiaan, hingga adat yang asli tidak terpengaruh oleh alam kebendaan (materi).
Orientasi terhadap uang jelas terbukti pada tokoh Nyonya yang tidak mampu menjaga nama baiknya, bahkan Nyonya tidak sadar telah menjual harga dirinya. Dengan demikian, dari penjelasan di atas bahwa tokoh Nyonya terbukti setiap tindakan yang dilakukannya mengacu pada orientasi terhadap uang dalam bentuk perilaku materialistis. Contoh dialog seperti di bawah ini:
Tuan   : Lima ratus ribu. Terserah Nyonya. Nyonya lebih suka memilih penjara atau dimarahi suami?
Nyonya         : Ibuku tentu akan memaki-makiku.
Tuan   : Terserah Nyonya, kata saya. Masuk penjara dan nama baik Nyonya hancur atau? (MENYERAHKAN UANG DENGAN PAKSA)
Nyonya         : (MENERIMA UANG ITU DENGAN GUGUP) Ya Tuhan. (MENCIUM UANG ITU BEBERAPA KALI) Jadi, tuan tidak mengatakan pada siapa pun juga, bukan?
Nyonya tidak merasa tenang karena persoalan-persoalan yang berdatangan terhadap dirinya. Dilihat dari tokoh Nyonya yang terbukti tidak bisa menjaga nama baik karena selalu tergiur tawaran tinggi demi mendapatkan uang. Tidak hanya berupa benda mati seperti pekarang rumah, empat petak marmer teras rumah, kursi tamu, kursi makan, dan tempat tidur yang tergadai demi kepentingan untuk mendapatkan uang, sampai- sampai harga diri Nyonya terbeli oleh Tuan. Contoh dialog seperti di bawah ini:
Ponakan A : Kamu takut kan? Syukurlah. Aku akan takut, kalau kamu tidak `takut. Ayo, serahkan uang itu, kalau tidak…. (MENIKAM-NIKAM PISAU ITU KE LANTAI)
Nyonya : Jadi,… jadi… kamu… perlu… uang. Baik.
(MENGELUARKAN UANG DARI DALAM TAS) Ini.

4.      Nilai Kesusilaan
Norma kesusilaan adalah
Ø  Aturan yang bersumber dari hati nurani manusia
Ø  Ajaran yang baik dan buruk
Ø  Sanksi tidak tegas, menyesal, malu
Ø  Contoh, berlaku jujur, menghargai orang lain.
Nilai kesusilaan yang terdapat dalam drama lakon Nyonya-Nyoya adalah nilai-nilai ketimuran. Kepatuhan seorang istri dalam menjaga nama baiknya dan suaminya adalah budaya Indonesia atau ketimuran. Telah berlangsung sejak zaman kerajaan hingga saat ini mengenai tingkah laku seorang istri.
Terdapat hal yang menarik ketika membaca drama ini. Terdapat hal-hal terkait dengan persoalan budaya negatif. Setiap babak memperlihatkan keinginan kuat dari Nyonya untuk menjaga nama baiknya sebagai seorang agar jangan sampai ada laki-laki yang masuk ke dalam rumah. Terkait dengan nilai ketimuran seorang istri terlihat dari dialog dengan Tuan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar